Penjualan Inco tahun 2008 mencapai US$ 1,312 miliar atau turun 43,6% dibanding tahun 2007 yang mencapai US$ 2,325 miliar.
Sedangkan laba bersih yang dibukukan sebesar US$ 359,316 juta atau turun 69,4% dibanding tahun 2007 yang mencapai US$ 1,173 miliar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hasil-hasil tahun 2008 dipengaruhi oleh rendahnya marjin penjualan nikel dalam matte akibat dari lebih rendahnya harga rata-rata penjualan dan penjualan nikel dalam matte," kata Presiden Direktur INCO, Arif Siregar dalam siaran pers, Jumat (20/9/2009).
Penurunan harga nikel yang tajam pada tahun 2008 mengakibatkan secara langsung penurunan hasil-hasil keuangan perseroan pada tahun 2008 dibandingkan dengan hasil-hasil keuangan tahun 2007.
Arif menjelaskan, produksi tahunan INCO pada tahun 2008 di bawah rencana awal sebesar 77.000-hingga-79.000 metrik ton akibat dari keputusan manajemen Perseroan untuk menghentikan semua pembangkit listrik bahan bakar.
Produksi nikel di tahun 2008 sebesar 72.400 metrik ton (dalam matte) yang turun dibanding tahun 2007 sebesar 76.700 metrik ton. Sedangkan penjualan nikel tahun 2008 sebesar 73.048 metrik ton turun dibanding tahun 2007 yang sebesar 76.700 metrik ton.
Keputusan ini dibuat pada akhir bulan Oktober 2008 dengan tujuan untuk mempertahankan tingkat keuntungan perseroan dengan pertimbangan harga nikel yang menurun dan tingginya biaya energi. Akibatnya, perseroan saat ini hanya bergantung pada pembangkit listrik tenaga air dengan biaya rendah dan mengantisipasi penurunan produksi sebesar 20 persen kedepannya
Pada tahun 2008, harga realisasi rata-rata nikel dalam matte perseroan adalah US$ 17,724 per metrik ton, turun 40,7% dari US$ 29,881 per metrik ton pada tahun 2007.
PT Inco tetap melanjutkan pekerjaan pada tiga proyek utamanya: fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Air di Karebbe, konversi batubara dan fasilitas penangkap debu electrostatic precipitators (ESP) pada tanur pereduksi.
Dua proyek pertama mempunyai tujuan untuk mempertahankan tingkat keuntungan dalam jangka panjang. Proyek ESP merupakan salah satu komitmen INCO untuk meningkatkan kinerja lingkungan hidup di wilayah operasi Soroako dengan mengurangi emisi debu dan meningkatkan penggunaan kembali nikel dengan mendaur ulang debu yang dihasilkan. Perseroan berencana untuk mengeluarkan biaya belanja barang modal sebesar US$ 228,8 juta pada tahun 2009.
(ir/qom)











































