Pergerakan indeks saham regional sejak awal tahun bergerak cenderung mendatar, begitu juga dengan kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dari awal tahun yang turun sebesar 2%.
Analis Danareksa Aldo Perkasa dalam ulasan pasarnya seperti dilansir Selasa (24/2/2009), menyebutkan dua hal yang masih menghantui pasar finansial saat ini, yaitu prospek ekonomi yang belum jelas dan ketatnya likuiditas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Prospek ekonomi yang belum jelas dan ketatnya likuiditas semiliki keterkaitan yang kuat dan merupakan syarat utama apabila pasar ingin pulih kembali.
Ketidakpastian mengenai prospek ekonomi membuat investor enggan dan takut untuk mulai masuk ke pasar saham, sementara fasilitas margin (pinjaman) yang berkurang akibat ketatnya likuiditas perbankan juga semakin membuat perdagangan di bursa Indonesia menjadi sepi.
Walaupun begitu, Danareksa melihat peluang penurunan pasar saham sekarang ini sudah jauh lebih terbatas dibandingkan dengan tahun lalu karena beberapa hal:
1. Berkurangnya kemungkinan jual paksa.
Jual paksa adalah keadaan dimana investor terpaksa menjual sahamnya akibat ketidakmampuannya untuk memenuhi ketentuan fasilitas margin. Dengan likuditas yang terbatas, sebagian besar perusahaan sekuritas mengurangi pemberian fasilitas margin. Walaupun hal ini dapat membatasi kemampuan spekulator untuk menggerakkan pasar, namun juga akan mengurangi kemungkinan terjadi jual paksa apabila terjadi koreksi yang signifikan di pasar.
2. Berkurangnya investor asing.
Beberapa tahun yang lalu investor asing mengkontribusikan sekitar 70% dari total pasar Indonesia. Dengan adanya krisis finansial, banyak investor asing yang sudah hengkang dari Indonesia hingga menjadi sekitar 50% dari total pasar. Hal ini dapat mengurangi terjadinya penjualan besar-besaran apabila terjadi berita buruk di keadaan
ekonomi global.
Pasar Obligasi
Pasar obligasi juga mengalami hal yang tidak jauh berbeda dengan pasar saham, dimana imbal hasil obligasi mulai kembali naik, walaupun tren suku bunga menurun. Hal ini disebabkan oleh investor asing yang mulai keluar dari pasar obligasi Indonesia. Data kepemilikan SUN (Surat Hutang Negara) menunjukkan kepemilikan asing per 3 Februari 2009 mencapai Rp 85,36 trilun (16% dari total SUN), turun dari data bulan Desember yang sebesar Rp 87,61 triliun (16,5% dari total SUN).
Danareksa melihat hal ini sebagai salah satu kesempatan bagi investor untuk mulai masuk ke pasar obligasi, karena dalam tren suku bunga yang masih menurun dan diperkirakan bisa mencapai 7,5% di akhir tahun, maka harga obligasi akan melakukan penyesuaian dengan tingkat suku bunga yang ada.
(ir/qom)











































