"Saham kan kita turunkan, tahun lalu kan 20 persen dari total investasi. Kalau sekarang mungkin 10-15 persen lah dari total investasi yang jumlahnya hingga akhir tahun ini diperkirakan mencapai Rp 70 triliun. Jadi kalau total Rp 70 triliun, kita bicara 15 persen kan sudah Rp 10,5 triliun," kata Dirut Jamsostek Hotbonar Sinaga usai BUMN Executive Breakfast Meeting "Economic Outlook 2009" di Wisma Antara, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Rabu (25/2/2009).
Hotbonar menjelaskan, investasi saham Jamsostek tahun ini di kisaran angka Rp 8-11 triliun dari total dana kelolaan investasi Rp 60 triliun. "Tapi tahun depan mudah-mudahan total investasi kita bisa naik menjadi Rp 70 triliun. Itu target 2009 akhir," katanya.
Menurut Hotbonar, meski harga saham sedang rendah, namun Jamsostek harus hati-hati dengan tidak belanja terlalu banyak.
"Kita kan harus hati-hati, kalau kita mengharap recovery lama, itu akan mempengaruhi laporan keuangan kita, terutama laba rugi. Kalau harganya murah, blue chip, dan prospeknya bagus ya akan kita beli. Tapi kita tetap harus hati-hati jangan terlalu banyak," katanya.
Sementara untuk investasi obligasi porsinya sebesar 25% terdiri dari investasi obligasi BUMN 20% dan obligasi swasta 5%.
"Kalau untuk obligasi korporasi itu tergantung rating-nya. Kita lebih prefer untuk membeli SUN atau obligasi BUMN, karena selama ini porsi obligasi BUMN itu sekitar 20 persen, obligasi swasta hanya 5 persen dari total portofolio investasi Jamsostek yang tahun lalu mencapai Rp 30 triliun," ujarnya.
Jamsostek juga sedang melirik obligasi Danareksa yang akan diterbitkan Rp 300 miliar. "Kalau kita ambil sekitar Rp 50 miliar lah. Kan ada batasan juga, nggak boleh sampai 50 persen dari total emisi, barangkali 20-25 persen emisi," katanya.
Untuk alokasi obligasi korporasi tahun ini Jamsostek menyediakan anggaran sekitar Rp 3-4 triliun.
(ir/qom)











































