Perdagangan di Wall Street diawali dengan penurunan yang tajam dan bergerak dengan sangat bergejolak. Wall Street sedikit membaik setelah ketidakpastian tentang nasib perbankan ditegaskan oleh Menkeu AS yang menyatakan akan mulai melakukan 'Stress Test' pada perbankan.
Pada perdagangan Rabu (25/2/2009), indeks Dow Jones industrial average (DJIA) ditutup melemah 80,05 poin (1,09%) ke level 7.270,89. Indeks Standard & Poor's 500 juga turun 8,24 poin (1,07%) ke level 764,90 dan Nasdaq turun 16,40 poin (1,14%) ke level 1.425,43.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pidato Presiden Barack Obama yang dilakukan menjelang sesi-sesi akhir perdagangan juga tak mampu menyelamatkan Wall Street. Komentar Obama justru direspons negatif oleh pasar ketika dia menyatakan bahwa institusi keuangan yang menghadapi risiko serius akan mendapat pengawasan serius dari pemerintah.
"Ketika ada pertanyaan tentang seberapa besar peranan pemerintah (dalam institusi swasta), maka pasar tidak menyukainya," ujar Peter Kenny, analia dari Knight Equity seperti dikutip dari Reuters, Kamis (26/2/2009).
Rencana melakukan 'Stress Test' yang diumumkan oleh Menkeu AS Timothy Geithner membuat saham-saham perbankan menguat. Stress Test merupakan elemen kunci bagi program penyelamatan perbankan yang diumumkan pemerintahan Obama.
Saham Bank of America melonjak 9 persen, JPMorgan naik 3,4%. Namun penguatan ini lebih rendah ketimbang di awal-awal perdagangan, akibat pernyataan dari Obama.
Perdagangan cukup aktif, di New York Stock Exchange mencapai 1,8 miliar, di atas rata-rata tahun lalu yang mencapai 1,49 miliar. Sementara di Nasdaq, transaksi mencapai 2,43 miliar, di bawah rata-rata tahun lalu yang mencapai 2,28 miliar.
(qom/qom)











































