"Rencana pembahasan soal BUMI dengan BEI tidak jadi dilakukan pekan ini," ujar Ketua Bapepam-LK, Fuad Rahmany di kantornya, Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat (27/2/2009).
Fuad mengatakan, semula rencana pembahasan dijadwalkan akan dilakukan pekan ini. Namun rencana tersebut ditunda tanpa alasan yang jelas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sayangnya, ia juga belum bisa memberikan kepastian kapan pembahasan akan dilakukan. "Bisa pekan depan. Tapi belum pasti," ujarnya.
Lambatnya proses pemeriksaan yang dilakukan Bapepam atas 3 akuisisi BUMI senilai Rp 6,191 triliun menimbulkan berbagai spekulasi di kalangan pelaku pasar.
Rumor bahkan melebar sampai ke isu politik seputar pemilihan umum April mendatang. Konon, penundaan berkali-kali yang dilakukan Bapepam ditambah selalu berubahnya isu yang dilempar ke pasar oleh Bapepam dinilai sengaja dilakukan untuk menjegal kinerja teknikal saham BUMI.
Awalnya, Bapepam selalu mengedepankan kategori material tidaknya transaksi Rp 6,191 triliun oleh BUMI. Namun, tanpa ada pernyataan resmi dari Bapepam terkait material tidaknya transaksi tersebut, isu bergeser ke penilaian harga yang wajar atas transaksi BUMI.
Pergeseran isu kembali terjadi tanpa ada pernyataan resmi soal wajar tidaknya harga akuisisi BUMI. Bapepam kini menyerahkan pada pemegang saham BUMI mengenai sah tidaknya akuisisi tersebut.
Dengan kata lain, jika RUPS menyetujui akuisisi tersebut maka tidak lagi menjadi masalah.
Hal ini diperkuat dengan pendapat analis dari beberapa sekuritas asing yang menyatakan bahwa isu seputar BUMI tidak lagi didasarkan pada faktor fundamental, melainkan pada sentimen negatif semata.
Menurut analis-analis asing tersebut, akuisisi Rp 6,191 triliun itu tidak mengganggu kinerja fundamental BUMI. Lantas mengapa Bapepam terus menerus mencari-cari kesalahan atas akuisisi BUMI?
"Secara peraturan, sebenarnya memang tidak ada masalah atas akuisisi tersebut. Jika transaksi Rp 6,191 triliun itu untuk 1 akuisisi bisa tergolong material. Tapi ini 3 akuisisi, jadi sebenarnya tidak tergolong material," ujar Pengamat Pasar Modal Hendra Bujang saat dihubungi detikFinance.
Wajar saja jika rumor merembet pada isu seputar pemilu 2009. Bukan rahasia lagi kalau banyak partai menempatkan investasi dana kampanye di saham BUMI. Sudah menjadi rahasia umum kalau banyak partai bakal terjegal akibat serangan-serangan negatif terhadap BUMI.
Bukan tidak mungkin kalau serangan terhadap BUMI merupakan aksi black campaign dari kelompok yang hendak memenangkan Pemilu 2009 yang akan digelar April mendatang.
Terlepas dari semua rumor tersebut, Andreas Bokkenhauser dari RBS menganjurkan agar investor melihat lebih obyektif atas saham BUMI.
"Investor seharusnya melihat secara lebih obyektif atas kinerja BUMI ketimbang ikut-ikutan terbawa oleh sentimen negatif yang berkembang di pasar yang lebih bersifat subyektif," ujar Andreas.
(dro/ir)











































