Demikian hal itu dikemukakan Direktur Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia (BI) Made Sukada di sela-sela acara workshop Wartawan Ekonomi dan Perbankan, Savoy Homann, Bandung, Sabtu (28/2/2009).
"Rupiah pasti menguat setelah mereka tidak membutuhkan banyak dolar lagi," ujarnya.
Menurutnya, penurunan rupiah selama ini akibat tingginya kebutuhan dolar beberapa industri di Amerika untuk melonggarkan likuiditas mereka. Maka dari itu, investasi dan persediaan dolar dari negara lain termasuk Indonesia ikut terserap ke dalam Amerika.
"Ini kan di luar teori ekonomi. Situasi ekonomi mereka (Amerika) yang melemah tapi dolarnya menguat," ujarnya.
Ia mengatakan, lambat laun teori ekonomi yang salah itu akan berjalan normal jika kebutuhan dolar di Amerika sudah mencukupi sehingga tekanan dolar terhadap mata uang lain bisa berkurang.
Tapi ia menambahkan, hingga saat ini belum dapat diprediksikan sampai kapan proses restrukturisasi ekonomi Amerika bisa selesai.
Menurutnya, salah satu tantangan yang dihadapi Amerika dalam pemulihan kondisi ekonomi salah satunya, kebijakan pemerintah setempat dalam membiayai stimulus ekonomi menggunakan pajak progresif.
"Jadi yang membiayai pemulihan ekonomi AS adalah golongan orang kaya. Semakin kaya semakin besar pajaknya. Tapi hal ini akan mendapat tentangan dari kubu Republik," katanya.
(ang/ir)
