Saham-saham di Wall Street pun terus berjatuhan dengan hantaman berbagai sentimen negatif. Indeks Dow Jones bahkan untuk pertama kalinya sejak Mei 1997 melorot di bawah level 7.000. Sementara S&P berada di bawah level 700, atau terburuk sejak Oktober 1996.
Pada perdagangan Senin (2/3/3009), indeks Dow Jones industrial average merosot hingga 299,64 poin (4,24%) ke level 6.763,29. Indeks Standard & Poor's 500 juga merosot 34,27 poin (4,66%) ke level 700,82 dan Nasdaq merosot 54,99 poin (3,99%) ke level 1.322,85.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemerintah AS sendiri akhirnya secara resmi mengumumkan pemberian bailout US$ 30 miliar kepada AIG. Bailout ketiga kalinya ini diberikan setelah AIG mencatat kerugian hingga US$ 61,7 miliar pada kuartal IV-2008, yang merupakan terbesar dalam sejarah korporasi AS. Pemerintah AS sebelumnya telah menyuntikkan US$ 150 miliar ke AIG.
"Kekhawatiran terjadi karena disana tidak tampak tanda-tanda bailout akan berakhir bagi bank-bank yang terlalu besar untuk gagal," ujar Fred Dickson, analis dari DA Davidson & Co seperti dikutip dari Reuters, Selasa (3/3/2009).
"Langkah pemerintah yang memberikan bailout ketiga untuk Citigroup dan keempat kalinya untuk AIG membuat investor tidak nyaman," tambahnya lagi.
Saham-saham sektor finansial terus tertekan. Saham Goldman Sachs turun hingga 5,3%, Morgan Stanley turun 8,1%, Bank of America turun 8,1% dan Citigroup turun 20%, sementara AIG flat ke level 42 sen.
Sektor energi juga mendapatkan tekanan setelah harga minyak merosot hingga 10%. Saham Chevron tercatat turun hingga 5,1%. Harga minyak jenis light sweet kemarin tercatat turun hingga 4,61 dolar (10,3%) menjadi US$ 40,15 per barel. Sementara minyak Brent turun 4,14 dolar ke level US$ 42,21 per barel.
Perdagangan berjalan sangat aktif, dengan transaksi di New York Stock Exchange mencapai 1,98 miliar, di atas rata-rata tahun lalu yang mencapai 1,49 miliar. Sementara di Nasdaq, transaksi mencapai 2,31 miliar, di bawah rata-rata tahun lalu sebesar 2,28 miliar.
Kejatuhan di Wall Street ini terjadi seiring dengan merosotnya bursa Eropa dan Asia sebelumnya. Bursa-bursa Eropa sebelumnya merosot karena kabar HSBC yang tengah mencari suntikan modal baru untuk bisa bertahan di tengah krisis global. HSBC membutuhkan suntikan US$ 18 miliar, setelah mengumumkan laba bersihnya turun hingga 70% dan mengumumkan PHK hingga 6.100 karyawan. (qom/qom)











































