Kekacauan di pasar kembali terjadi setelah raksasa asuransi, American International Group (AIG) melaporkan kerugian terbesar dalam sejarahnya hingga US$ 61,7 miliar. AIG pun kembali harus mendapatkan bailout karena kebangkrutannya dinilai bisa lebih buruk.
Pemerintah AS akhirnya secara resmi mengumumkan pemberian bailout US$ 30 miliar kepada AIG. Pemerintah AS sebelumnya telah menyuntikkan US$ 150 miliar ke AIG.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepanikan yang melanda pasar membuat pelaku pasar berbondong-bondong beralih ke dolar AS. Pada penutupan perdagangan valas Senin waktu AS (2/3/2009) euro anjlok ke level 1,2578 dolar AS dibanding Jumat pekan lalu di level 1,2671 dolar AS. Sedangkan terhadap yen, mata uang paman sam berada di posisi 97,49 yen dibanding Jumat pekan lalu 97,65 yen. Â
Dolar AS dan yen menguat hampir ke semua mata uang dunia. Sedangkan poundsterling ikut jatuh ke posisi 1,4052 dolar AS dibanding Jumat pekan lalu 1,4310 dolar AS.
"Dolar AS kini menjadi pilihan sebagai mata uang yang aman di tengah gejolak yang terjadi saat ini. Investor masih melanjutkan menaruh dananya di dolar AS dan yen," kata Lee Hardman, ekonom dari Bank of Tokyo Mitsubishi seperti dilansir dari AFP, Selasa (3/3/2009).
"Walaupun ekonomi AS masih akan melemah, investor memperkirakan negara itu akan mengalami pemulihan lebih cepat dibanding Eropa yang mengalami peningkatan risiko dengan banyaknya modal yang keluar," ujarnya.
Rupiah
Sementara mata uang rupiah akan kembali mengalami tekanan dari faktor eksternal menyusul tingginya perburuan dolar AS. Rupiah hanya berharap dari pertolongan dari intervensi Bank Indonesia.
Pada perdagangan valas pukul 08.00 WIB, Selasa (3/3/2009) rupiah ada di level 12.030 per dolar AS dan ditransaksikan di kisaran 11.980-12.080 per dolar AS.
Pelaku pasar melihat jika BI cukup aktif menjaga rupiah maka mata uang lokal ini bisa sedikit menyingkirkan tekanan eksternal. Â
(ir/ir)










































