Sebelum kasus bunuh diri Afwan, publik tentunya masih ingat dengan bunuh diri yang dilakukan oleh nasabah Bank Century yang menjadi korban penipuan produk investasi berkedok reksa dana yang dikeluarkan PT Antaboga Delta Sekuritas.
Sayuti, nasabah Bank Century dari Jambi memilih mengakhiri hidupnya dengan terjun dari Hotel Abadi Jambi, setelah sebelumnya sempat menenggak racun. Sayuti yang mengalami stres berat nekat melakukan bunuh diri pada Jumat, 13 Februari malam setelah Jumat siangnya gagal mencairkan reksa dananya di Bank Century sebesar Rp 125 juta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Robert yang merupakan eks pemilik Bank Century dan kini mendekam di penjara menggelapkan dana hingga lebih dari Rp 2,5 triliun. Khusus penggelapan dana nasabah Antaboga, nilainya adalah Rp 1,37 triliun dan nasabah yang dirugikan sebanyak 5.000 nasabah.
Dana nasabah-nasabah, termasuk milik Sayuti mengalir ke berbagai rekening fiktif milik Robert dan sudah disulap menjadi berbagai properti mulai dari tanah, mal hingga rumah sakit.
Dan kini sebuah kisah keserakahan pemilik kembali berulang di PT Sarijaya Permana Sekuritas. Setelah dihentikan kegiatan operasionalnya, Sarijaya juga mendapat tekanan dari para nasabah yang meminta dana dan efeknya dikembalikan.
Kemelut di Sarijaya terjadi setelah Herman Ramli diketahui menggelapkan dana para nasabahnya. Dana yang digelapkan oleh Herman Ramli mencapai Rp 245 miliar. Ketua Bapepam LK Fuad Rahmany pun sempat terheran-heran oleh perilaku Herman Ramli yang mempertaruhkan reputasinya dengan menggelapkan dana nasabah.
Gelap mata Herman Ramli tak hanya menyusahkan para nasabah, tapi juga para karyawannya. Gaji para karyawannya pun harus tersendat-sendat dan terpaksa ditalangi oleh SRO. Dan salah satu yang tidak tahan dengan tekanan kondisi di Sarijaya adalah Afwan.
Pria berusia 34 tahun itu memilih mengakhiri hidupnya pada Selasa (3/3/2009) malam dengan gantung diri di garasi mobilnya. Afwan mengakhiri hidupnya setelah sempat mengaku bingung dan stres. Para karyawan Sarijaya pun menuding kasus ini akibat polah Herman Ramli.
(qom/ir)











































