Kisah kematian Afwan Surya Hendra memang tidak seperti cerita dalam film-film yang pelakunya digambarkan mengalami tekanan yang hebat. Stres dan kegelisahan yang sangat dramatis, dijadikan cerita pengantar sebelum sang tokoh memutuskan mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.
Namun kisah kematian Afwan, sangat jauh dari gambaran tersebut. Tidak ada yang tahu alasan Afwan memutuskan mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri di garasi mobilnya pada Selasa malam (3/3/2009). Semua pihak masih serba
menduga-duga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Selasa sore, saya masih melihat Afwan duduk bersama anaknya di depan rumah. Dia masih membalas sapaan saya," ujar salah seorang tetangga Afwan yang enggan memberitahu namanya saat ditemui detikFinance di dekat rumah Afwan, Condet, Jakarta, Rabu (4/3/2009).
Tetangga itu memang melihat raut wajah Afwan agak layu. Namun ia tidak berpikir kalau Afwan akan memutuskan mengakhiri hidupnya.
"Wajahnya memang agak layu. Tapi saya pikir itu karena capek masalah kerjaan saja. Saya tidak menyangka kalau malamnya ia melakukan itu," ujarnya.
Afwan diketahui duduk di teras bersama anaknya hingga menjelang terbenam matahari. Setelah itu, Afwan diketahui berada di dalam kamar bersama istrinya dan anak-anaknya.
Istri korban Dewi Purwati tidak sanggup menceritakan detik-detik terakhir sebelum Afwan memutuskan mengakhiri hidupnya. Dewi hanya mengatakan tidak menyangka suaminya akan melakukan itu.
"Saya tidak pernah mengira seperti ini," ujarnya.
Namun menurut penuturan kerabat Afwan, lagi-lagi menolak memberitahu namanya, berdasarkan cerita yang dituturkan oleh Dewi kepadanya, Afwan tidak menunjukkan sama sekali tanda-tanda akan melakukan bunuh diri.
"Kata Dewi, setelah Magrib hingga masuk Isya, Afwan masih berada di kamar berbincang dengan istri dan anaknya. Katanya tidak terlihat tanda-tanda apa pun," tutur kerabat tersebut.
Menurut penuturan Dewi kepadanya, antara pukul 19.30 WIB hingga 20.00 WIB, Afwan kemudian pamit ke garasi pada istri dan anaknya. Tak jelas alasannya. Dewi pun tidak berpikir yang negatif. Mungkin Dewi hanya berpikir Afwan bertujuan mengambil sesuatu yang tertinggal disana.
"Kata Dewi, Afwan pun sempat membalas lambaian tangan anaknya. Jadi katanya anaknya bilang dadah papa. Kemudian Afwan membalas lambaian tersebut sambil sedikit tersenyum," ungkap kerabat tersebut.
Tak lama Afwan pergi. Hanya sekitar 10 menit Afwan di garasi, tiba-tiba Dewi mendengar teriakan. Rupanya adik Dewi bernama Eddy yang berteriak-teriak.
"Gantung! Gantung!" demikian teriak Eddy seperti diceritakan ulang oleh kerabat tersebut.
Tempat tinggal Eddy tidak jauh dari lokasi. Eddy memang biasa memarkir kendaraannya di garasi yang sama dengan garasi Afwan. Saat itu, lampu garasi kayu itu memang tidak menyala.
Ketika mobil Eddy belok kiri (ke arah garasi), lampu mobilnya menyorot ke dalam garasi. Seketika, Eddy melihat ada tubuh yang tergantung dalam garasi. Kontan saja ia kaget dan berteriak minta tolong.
Segera setelah Dewi keluar mereka langsung menuju garasi. Menurut penuturan kerabat tersebut, sempat terjadi perselisihan pendapat.
"Mereka sempat berdebat apakah tubuh Afwan harus dibiarkan tergantung hingga polisi datang, atau diturunkan saja dengan segera. Karena biasanya, kalau ada korban gantung diri, untuk pemeriksaan kepolisian, kondisi TKP tidak boleh diubah-ubah," ujarnya.
Namun akhirnya istri dan adik ipar Afwan memutuskan menurunkan tubuh Afwan dari tali tambang kuning yang menjadi pengikat mencekik leher Afwan. Ketika diturunkan, tubuh Afwan masih hangat.
Tak lama, mereka kemudian mencari-cari apakah ada surat berisi pesan yang ditinggalkan oleh Afwan. Namun tidak ditemukan.
"Ternyata, di dalam mobil mereka menemukan beberapa tali yang sudah disimpul seperti yang biasa digunakan untuk bunuh diri. Agaknya Afwan sudah beberapa kali mencoba membuat simpul tali yang pas untuk bunuh diri," ujar kerabat tersebut.
Rupanya, Afwan telah mempersiapkan kematiannya tanpa ada yang menduga sama sekali, termasuk istri maupun anaknya. Afwan sempat menyapa tetangga. Bahkan ia sempat berbincang dengan istrinya beberapa menit sebelum ajal. Afwan juga sempat melambaikan tangan pada anaknya sebelum ke garasi kematian. Tak terduga.
"Afwan jarang keluar rumah. Paling ia kelihatan kalau akhir pekan. Itu pun biasanya ia pergi keluar bersama keluarga," ujar tetangga Afwan.
"Saya sama sekali tidak menyangka. Kalau masalah terancam kehilangan pekerjaan, saya rasa tidak ya. Pak Afwan selalu bilang pada saya agar segera mencari pekerjaan baru seperti dirinya. Pak Afwan mengaku telah mendapat tawaran pekerjaan dari berbagai pihak," ujar Taufik, salah seorang staf Afwan di Sarijaya.
"Pak Afwan itu selalu terlihat sebagai seorang pemimpin. Tidak terlihat lemah. Saya tidak menyangka ini bisa terjadi," ujar Basuki salah seorang rekan kerja Afwan lainnya di Sarijaya.
Spekulasi pun bermunculan. Mana yang lebih kuat, faktor internal Afwan atau terkait masalah PT Sarijaya Permana Sekuritas yang menjadi pemicu Afwan mengakhiri hidupnya.
Satu yang pasti, Afwan baru saja ditunjuk menjadi saksi a decharge oleh Teguh Jaya Suyud Putra, salah seorang direksi Sarijaya yang sudah ditahan. Saksi a decharge adalah saksi yang ditunjuk oleh tersangka dengan tujuan memberikan kesaksian yang dapat meringankan hukuman tersangka.
(dro/ir)











































