JK: Dampak Penurunan Saham Tidak Besar ke Ekonomi RI

JK: Dampak Penurunan Saham Tidak Besar ke Ekonomi RI

- detikFinance
Jumat, 06 Mar 2009 14:47 WIB
JK: Dampak Penurunan Saham Tidak Besar ke Ekonomi RI
Jakarta - Dampak krisis ekonomi dunia terhadap Indonesia tidak terlalu besar dibanding negara lain. Karena sektor finansial dan saham hanya 23 persen kontribusinya terhadap perekonomian Indonesia.

"Saya ingin tambahkan bahwa efek krisis ekonomi dunia ke Indonesia tidak sebanding dengan negara lain. Karena pertama efek itu jatuhnya ke sektor finansial. Sedangkan finansial dalam market kita kan tidak besar. Di AS yang jatuh kan harga saham. Di Indonesia saham itu hanya 23 persen, turun tapi dampaknya tidak terlalu besar," kata Wapres Jusuf Kalla.

Hal itu diungkapkan Kalla usai salat Jumat di Istana Wapres, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (6/3/2009).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Faktor lain yang membuat Indonesia lebih tahan dari krisis menurut Kalla adalah ekspor komoditas.  

"Ekspor kita adalah komoditi, bagaimanapun tetap diuntungkan. Harganya memang turun. Jadi yang turun harganya. Karena itu memang ada PHK. Tapi dengan proyek baru infrastruktur mudah-mudahan bisa menyerap lebih banyak daripada yang di PHK," jelas Kalla.

Proyek infrastruktur ini diharapkan bisa menyerap tenaga kerja. "Kita bikin rumah saja dipercepat. Kalau bikin rumah berapa bisa menyerap. Jadi bisa diganti dengan cara cara seperti itu, dengan mempercepat proyek listrik dan jalan tol akan berpengaruh signifikan kepada yang lain," katanya.

Paket stimulus yang digulirkan pemerintah juga diharapkan bisa mengimbangi kelesuan ekonomi saat ini. "Ini soal waktu saja, dihitung kalau stimulus datang semua, bisa diimbangi. Dari PHK yang 40 ribu itu, contohnya, kalau dibikin saja berapa perumahan jadi, semua airport ditambah macam-macam, itu nilai tambah yang lain," katanya.

BI Rate

Kalla juga menjelaskan perbankan butuh waktu untuk menyesuaikan dengan penurunan BI Rate yang kini di level 7,75%.    

"Selalu ada gap waktu, antara turunnya SBI dengan turunnya bunga di bank. Karena BI Rate mempengaruhi deposito. Sekarang deposito ada jangka waktunya. Katakanlah satu bulan tiga bulan. Jadi biasanya ada jangka waktu. Kalau BI Rate turun, baru turun bunga dua bulan kemudian baru turun. Karena ada gap waktu. Tapi pasti turun meski tidak terlalu jauh bedanya," papar Kalla.

Kalla mencontohkan ada perbedaan antara BI Rate dengan efektif bunga yang kadang-kadang mencapai 4 persen. Pada waktunya nanti kata dia bunga akan turun 12 persen.

"Pasti, karena bank juga tidak akan kuat. Kalau yang lain turun, dia sendiri naik diatas, orang juga tidak akan mau. Kalau terlalu tinggi bunga, NPL bank itu bisa terlalu tinggi. Jadi itu akan sulit buat bank karena tidak bisa bersaing," tutur Kalla. (ir/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads