Pada perdagangan Senin (9/3/2009), indeks Nikkei merosot hingga 1,21% ke level 7.086,03 poin, yang merupakan terendah sejak 6 Oktober 1982. Nikkei sudah merosot hingga 20% sepanjang tahun 2009, setelah pada tahun 2008 juga anjlok hingga 42%.
Kemerosotan bursa terjadi setelah pemerintah Jepang melaporkan rekor defisit neraca berjalan pada Januari, untuk pertama kalinya sejak 13 tahun terakhir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jepang mencatat defisit neraca berjalan hingga 172,8 miliar yen (US$ 1,8 miliar) pada Januari. Defisit terutama dipicu oleh anjloknya ekspor hingga 50 persen lebih. Negara yang menggantungkan perekonomiannya dari ekspor ini terutama terpukul oleh anjloknya permintaan mobil, barang-barang teknologi dan permesinan. Data ini sekaligus menunjukkan perekonomian Jepang terjatuh ke resesi terburuk sejak Perang Dunia II.
"Jepang tergantung pada permintaan di luar negeri, sehingga perekonomiannya tidak akan pulih kecuali ekspor meningkat lagi. Namun data ini menunjukkan bahwa skenario pemulihan masih jauh dari jangkauan," ujar Mitsushige Akino, chief fund manager dari Ichiyoshi Investment Management.
Bursa Asia Berjatuhan
Tak hanya indeks Nikkei-225 di Bursa Saham Tokyo, mayoritas bursa-bursa Asia pun juga berjatuhan. Indeks Hang Seng di Bursa Hong Kong ditutup merosot hingga 576,94 poin (4,8%) ke level 11.344,58. Saham HSBC tercatat merosot hingga 24% karena kekhawatiran tentang rencana penambahan modal.
Sementara bursa Shanghai juga tercatat merosot hingga 3,39%. Indeks Straits Times di Bursa Singapura juga ditutup merosot 3,71% atau 56,17 poin ke level 1.456,95. Namun indeks KOSPI di Bursa Korsel ditutup naik 1,58% ke level 1.071,73. Sementara Bursa Efek Indonesia tercatat masih libur memperingati Maulid Nabi Muhammad.
(qom/qom)











































