Aset Asia Kapitalindo Terpukul Repo Grup Bakrie

Aset Asia Kapitalindo Terpukul Repo Grup Bakrie

- detikFinance
Rabu, 18 Mar 2009 17:58 WIB
Aset Asia Kapitalindo Terpukul Repo Grup Bakrie
Jakarta - Aset PT Asia Kapitalindo Securities Tbk (AKSI) anjlok 77,8% di akhir 2008 lantaran terlibat dalam aksi repurchase agreement (repo) saham-saham grup Bakrie melalui PT Bakrie Capital Indonesia (BCI).

"Posisi aset kami tahun 2008 turun karena ada penyelesaian repo saham-saham grup Bakrie yang kami miliki melalui BCI," ungkap Direktur Utama AKSI, Wim Al Fatih usai paparan di Menara Imperium, Jl Rasuna Said, Jakarta, Rabu (18/3/2009).

Pada akhir tahun 2008, posisi aset perseroan sebesar Rp 86,164 miliar, turun 77,8% dibanding posisi tahun 2007 sebesar Rp 388,155 miliar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nilai kewajiban perseroan di akhir 2008 juga mengalami penurunan tajam sebesar 94,75% menjadi Rp 16,693 miliar dari semula Rp 318,155 miliar.

"Penurunan aset dan kewajiban itu memang karena kami melakukan penyelesaian atas repo kami dengan BCI. Itu nilainya sekitar Rp 300 miliar," ujar Wim.

Wim mengatakan, penyelesaian masalah repo saham-saham grup Bakrie tidak mempengaruhi kinerja perseroan di 2008. Tahun 2008, perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp 13,922 miliar, naik tipis 5,17% dibanding tahun 2007 sebesar Rp 13,237 miliar.

Laba bersih 2008 sebesar Rp 609,604 juta, anjlok tajam 93,29% dibanding tahun 2007 sebesar Rp 9,078 miliar.

"Penurunan laba bersih memang karena adanya kenaikan biaya-biaya yang diiringi dengan anjloknya market semester dua tahun 2008. Ini menyebabkan penurunan laba bersih. Repo bakrie tidak terkait dengan kinerja keuangan kami," jelas Wim.

Wim mengatakan, saat ini pun perseroan masih memegang repo saham BNBR yang dibeli melalui PT Samuel Sekuritas.

"Nilai repo BNBR yang kami beli dari Samuel Sekuritas sebesar Rp 6 miliar. Tidak besar. Memang sempat terhenti pembayaran bunganya. Tapi mulai pekan ini sudah dibayarkan kembali kok bunganya. Kalau pokok repo direstrukturisasi hingga 2 tahun," ujarnya.

Tahun ini, perseroan menargetkan pertumbuhan pendapatan sebesar 7% dibanding posisi akhir 2008. Wim mengatakan, target tersebut sangat konservatif mengingat bisnis brokerage di tahun 2009 diperkirakan bakal sangat penuh tantangan.

"Bisnis brokerage tahun ini cukup berat. Penuh tantangan. Untuk menyiasatinya, kami sedang mencari cara meningkatkan pendapatan di luar transaksi saham," jelas Wim.

Saat ini perseroan sedang menjajaki kemungkinan menjadi penjamin emisi perusahaan batubara kecil asal Kalimantan Timur yang memiliki kapasitas produksi sekitar 1,2 juta ton per tahun.

"Masih dijajaki. Tapi kalau situasi memungkinkan, semester dua bisa saja dilaksanakan IPO," ujarnya.

Perseroan juga berencana menerbitkan produk reksadana penyertaan terbatas (RDPT) dengan target dana kelolaan sebesar Rp 100 miliar.

"Berdasarkan perhitungan kami, RDPT bagus diterbitkan jika nilainya minimal Rp 100 miliar. Sejauh ini baru ada dua institusi dari dana pensiun dan asuransi. Jumlahnya masih belum sampai Rp 100 miliar. Kalau sudah terpenuhi baru kita terbitkan produk ini," jelas Wim.

(dro/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads