Dari sekitar 417 nasabah Sarijaya yang ada di Bogor, yang sudah bisa pindah rekening dan bertransaksi tidak sampai 50 nasabah.
"Kelihatannya prosesnya tidak secepat itu. Masih tersendat-sendat. Baru sedikit sekali yang sudah pindah rekening," ujar Teguh Hartono, koordinator nasabah Sarijaya cabang Bogor saat dihubungi detikFinance, Kamis (19/3/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kelihatannya penyebab lambatnya pemindahan ini karena adanya perbedaan sistem antara Sarijaya dengan sekuritas tujuan. Menurut keterangan ibu Marle (staf Sarijaya), pemindahan rekening efek sudah selesai dilakukan dari Sarijaya. Namun ketika saya cek ke sekuritas tujuan, efek-efek saya belum ada disana," jelas Teguh.
Teguh mengatakan, semula lambatnya pemindahan rekening efek disebabkan masalah birokrasi dan administrasi, yaitu belum diperolehnya tanda tangan persetujuan pemindahan rekening efek dari Direktur Utama Sarijaya Jusuf Rusli.
"Tapi setelah otoritas pasar modal memerintahkan ini dipercepat, pak Jusuf Rusli akhirnya sudah tanda tangan pada 3 Maret 2009. Namun sejak 3 Maret hingga sekarang, baru sedikit sekali yang sudah bisa pindah rekening," keluh Teguh.
Teguh menyebutkan, dari sekitar 417 nasabah Sarijaya yang ada di Bogor, yang sudah bisa pindah rekening dan bertransaksi tidak sampai 50 nasabah.
"Dari 417 nasabah, yang sudah pindah tidak sampai 50 nasabah. Padahal waktunya tinggal 1 minggu lagi kan 25 Maret 2009," ujar Teguh.
Berdasarkan keterangan Kepala Biro Transaksi dan Lembaga Efek Bapepam-LK Nurhaida, dari total 7.568 nasabah yang sudah selesai diverifikasi data efeknya, sebanyak 3.400 nasabah menyatakan ingin pindah rekening.
Bapepam bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) telah memfasilitasi pemindahan rekening efek nasabah Sarijaya dan menunjuk 105 sekuritas untuk keperluan tersebut. Namun sebagaimana dikatakan Teguh, hingga saat ini realisasinya masih jauh dari harapan.
"Masak lambat sekali. Kalau di bank kan kita transfer hari ini, paling lama besok atau lusa sudah sampai. Ini kok lama sekali. Apa sistemnya yang sudah kuno atau bagaimana?" tanya Teguh.
(dro/ir)











































