"Kami berencana rights issue senilai US$ 1,4 miliar," ujar Chairman TM International (Presiden Komisaris EXCL), Tan Sri Dato' Ir Muhammad Radzi bin Haji Mansor usai paparan di Grha XL Mega Kuningan, Jakarta, Kamis (19/3/2009).
Menurut Muhammad, dana hasil rights issue bakal digunakan untuk melakukan pembayaran utang-utang TM International senilai sama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
EXCL memang berencana melakukan rights issue untuk mendanai belanja modal (capital expenditure/capex) tahun ini sebesar US$ 600 juta dan melunasi sebagian utang EXCL yang per akhir 2008 mencapai US$ 1 miliar.
Namun rencana tersebut masih terkatung-katung. Konon, realisasi aksi rights issue EXCL masih menunggu hasil rights issue TM International pada Mei mendatang.
Ketika dikonfirmasi kebenaran kabar tersebut, Presiden Direktur EXCL Hasnul Suhaimi tidak mengelak juga tidak membenarkan. "Tunggu RUPS deh," ujarnya.
Namun yang jelas, TM International bakal mengadakan RUPS Luar Biasa pada 24 Maret 2009 guna meminta persetujuan pemegang saham atas aksi rights issue US$ 1,4 miliar.
Refinancing
EXCL berencana membiayai kembali utang sebesar US$ 400 juta tahun ini. Sebagian besar utang dolar akan direfinancing dengan pinjaman rupiah.
"Tahun ini kita akan refinancing utang sebesar US$ 400 juta," ujar Hasnul.
Dananya akan diperoleh dari pencairan komitmen pinjaman dolar dari EKN sebesar US$ 200 juta dan pinjaman rupiah dari bank lokal yang sedang dijajaki perseroan.
"Kami akan cairkan sisa komitmen pinjaman US$ 200 juta dari EKN tahun ini. Sisanya dicari dari bank lokal," jelas Hasnul.
Hasnul menjelaskan, utang perseroan yang jatuh tempo tahun ini terdiri dari pinjaman ABN AMRO (sekarang RBS) US$ 50 juta, ECA US$ 31 juta dan Bank Mandiri Rp 400 miliar.
"Totalnya ekuivalen dengan US$ 130 juta," ujar Hasnul.
Selain refinancing utang jatuh tempo sebesar US$ 130 juta, perseroan juga berencana melakukan refinancing utang yang jatuh tempo tahun 2010-2011.
"Besarnya kira-kira US$ 270 juta. Semua dalam dolar. Rencananya refinancing utang US$ 270 juta itu akan menggunakan pinjaman rupiah," jelas Hasnul.
Hasnul mengatakan, tujuan percepatan pembayaran utang dolar sebesar US$ 270 juta itu dan menggantinya dengan pinjaman rupiah adalah untuk mengurangi porsi utang dolar perseroan.
"Memang tujuannya untuk mengurangi exposure utang dolar perseroan dan menggantinya dengan pinjaman rupiah," jelas Hasnul.
Wajar saja, total utang berjalan (outstanding debt) EXCL tahun 2008 mencapai US$ 1 miliar lebih, terdiri dari pinjaman dolar sebesar US$ 900 juta dan pinjaman rupiah sebesar Rp 900 miliar.
Tahun 2008, perseroan membukukan rugi bersih sebesar Rp 15 miliar akibat kalah kurs (forex loss) lantaran besarnya porsi utang dolar perseroan.
"Dengan agenda refinancing sebagian utang dolar ke rupiah, kami harap dapat menekan potensi kerugian kurs tahun ini. Kurs masih sangat tidak stabil," jelas Hasnul.
Sayangnya, Hasnul belum dapat memberikan informasi mengenai bank-bank lokal mana saja yang akan memberikan pinjaman rupiah equivalen dengan US$ 200 juta guna refinancing utang dolar ke rupiah.
"Baru pembahasan dengan beberapa bank. Belum dapat komitmennya," ujar Hasnul.
(dro/ir)











































