BI Jaga Sekuat Tenaga, Rupiah Membaik di 11.885/US$

BI Jaga Sekuat Tenaga, Rupiah Membaik di 11.885/US$

- detikFinance
Kamis, 19 Mar 2009 16:50 WIB
BI Jaga Sekuat Tenaga, Rupiah Membaik di 11.885/US$
Jakarta - Posisi rupiah kembali membaik di bawah level 12.000 per dolar AS. Bank Indonesia (BI) menjaga rupiah tidak tembus dari Rp 12.000/US$ dengan jumlah cadangan devisa yang dinilai cukup yaitu sekitar US$ 53 miliar.
 
Pada perdagangan valas pukul 16.30 WIB, Kamis (19/3/2009) rupiah menguat 75 poin ke posisi 11.885 per dolar AS. Rupiah hari ini sempat menguat hingga ke posisi 11.760 per dolar AS.
 
"Rupiah akan dipertahankan oleh BI level Rp 12.000/US$, maka itu level Rp 12.000/US$ akan dijaga sekuat tenaga. Selama ini anda perhatikan kan tidak pernah berhasil tembus Rp 12.000/US$ sehingga tidak membuat pasar panik. Saya melihat cadangan devisa US$ 53 miliar cukup seharusnya. Kita lihat tahun 1995 masih sekitar US$ 35 miliar tapi nilai tukarnya di Rp 9.000/US$," tutur Pengamat Pasar Uang Farial Anwar usai acara Seminar Moneter di Hotel Aryaduta, Jakarta, Kamis (19/3/2009).
 
Farial mengatakan saat ini sudah ada upaya maksimal dari BI untuk menstabilkan nilai tukar di tengah demand dolar AS yang besar sementara pasokan dolar tidak ada.
 
"Kita lihat cadangan devisa menurun. Hanya sekarang sampai kapan, ini kan jalan terus gejolak ekonomi kapan selesai. Kita tidak tahu kapan bisa melihat rupiah lebih kuat dari sekarang. Tanda tanya besar bagi setiap orang apakah bisa tembus Rp 12.000/US$, kalau bisa tembus Rp 12.000 akan ada level baru lagi Rp 12.500/US$," paparnya.
 
Menurut Farial, jika BI gagal menjaga nilai tukar tembus Rp 12.000/US$, maka dampaknya akan sangat berat bagi perekonomian.
 
"Akan ada kredit macet yang luar biasa, importir bahkan perbankan akan mengalami dampak yang luar biasa. Akan ada kredit macet di valas, anda bayangkan, anda dulu meminjam di Rp 9.000/US$ sekarang rugi kursnya sudah Rp 3.000/US$," katanya.
 
Apalagi sekarang tambahan cadangan devisa tidak bisa lagi diandalkan lewat ekspor karena penurunan aktivitas perdagangan dunia, kemudian arus modal keluar juga jadi penyebab turunnya cadangan devisa.
 
"Jadi kita tidak ada sumber dari situ, yang dilakukan pemerintah dan BI kan terbitkan global bond, tapi bunga tinggi. Kalau bunganya tinggi, bagaimana korporasinya. Tapi ini merupakan upaya menambah cadangan devisa kita," pungkasnya.
  
Sementara Deputi Gubernur Bi Hartadi A Sarwono mengatakan BI tetap akan melakukan intervensi jika terjadi volatilitas yang berlebihan.

"Kita tidak mengendalikan levelnya. Jadi jangan sampai rupiah menguat dan melemah terlalu cepat. Kalau itu memang diperlukan oleh pasar. Kalau suplai menipis tapi demand meningkat, maka akan besar pelemahannya. Tapi kalau impornya sudah tidak terlalu banyak, dan utang luar negeri tercover natural hedge dan suplainya tetap ada termasuk dari BI, maka rupiah masih terjaga," tutur Hartadi.

Hartadi juga mengatakan, rencana the Fed membeli surat utang pemerintah AS adalah keputusan yang baik. "Ya mulainya di AS dulu, kalau membeli paper-paper tadi, biasanya itu membantuk stock market disana dan biasanya menular ke global. Tapi sekarang tendensinya membaik dengan keputusan itu. Kalau capital market membaik itu sejalan juga dengan mata uang-mata uangnya," jelasnya.

(dnl/ir)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads