Wall Street Melorot, Minyak Melonjak

Wall Street Melorot, Minyak Melonjak

- detikFinance
Jumat, 20 Mar 2009 06:42 WIB
Wall Street Melorot, Minyak Melonjak
New York - Efek The Fed pudar dan saham-saham kembali bergerak melemah. Sementara harga minyak justru merangsek menembus lagi level US$ 50 per barel.

Saham-saham di Wall Street bergerak melemah karena khawatir langkah terakhir yang ditempuh Bank Sentral AS (Federal Reserve) bakal terlalu mahal dan belum teruji. Investor melakukan profit taking atas saham-saham sektor finansial setelah sebelumnya melonjak tajam.

Pada perdagangan Kamis (19/3/2009), indeks Dow Jones industrial average (DJIA) ditutup melemah 85,78 poin (1,15%) ke level 7.400,80. Indeks Standard & Poor's 500 juga turun 10,31 poin (1,30%) ke level 784,04 dan Nasdaq turun 7,74 poin (0,52%) ke level 1.483,48.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saham-saham sektor finansial mencatat penurunan setelah sebelumnya melonjak tajam. Saham JPMorgan turun 8 persen, Citigroup anjlok 15,6%. Investor kembali meragukan langkah the Fed akan bisa cepat membantu memulihkan ekonomi AS.

"Apakah mereka bisa menariknya? Ini terlalu agresif dalam istilah menurunkan porsi utang dalam neraca keuangan," ujar David Katz, CIO Matix Assets Advisors seperti dikutip dari Reuters, Jumat (20/3/2009).

Seperti diketahui, the Fed kemarin memutuskan untuk memompakan likuiditas ke pasar melalui pembelian US Treasury sebesar US$ 300 miliar dan US$ 750 miliar melalui pembelian mortgage securities.

Saham Chevron tercatat naik hingga 0,8% setelah harga minyak mentah dunia kembali melonjak menembus US$ 50 per barel.

Perdagangan berjalan sangat aktif, di New York Stock Exchange mencapai 1,95 miliar, di atas rata-rata tahun lalu sebesar 1,49 miliar. Sementara di Nasdaq transaksi mencapai 2,35 miliar, sedikit di atas rata-rata tahun lalu sebesar US$ 2,28 miliar.

Harga Minyak Melonjak

Sementara itu, harga minyak mentah dunia justru memberikan reaksi berbeda merespons keputusan The Fed tersebut.

Pada perdagangan kemarin, kontrak utama minyak jenis light pengiriman April menguat hingga 3,47 dolar ke level US$ 51,61 per barel. Inilah untuk pertama kalinya harga minyak menembus lagi US$ 50 per barel setelah 4 bulan. Kontrak ini bahkan sempat menembus US$ 52,25 per barel, yang merupakan level tertinggi setelah 28 November 2008.

Sementara minyak Brent pengiriman Mei juga menguat 3,01 dolar ke level US$ 50,67 per barel.



(qom/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads