Penguatan rupiah dan IHSG yang utama karena didorong antusiasme pelaku pasar lokal dan asing yang mulai masuk ke emerging market termasuk Indonesia.
Pasokan valas di pasar mulai menuju normal karena mengalirnya dana investor asing yang membeli portofolio di pasar modal Indonesia. Rupiah juga mengikuti tren penguatan mata uang regional.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Euforia penguatan Wall Street menular ke IHSG, setelah pemerintah AS mengumumkan detail dari rencana pembersihan bank-bank dari aset-aset macet. Saham-saham unggulan mendominasi kenaikan IHSG terutama dari sektor telekomunikasi, energi dan bank.
Pada penutupan perdagangan saham sesi siang, Selasa (24/3/2009) IHSG menguat 25,690 poin (1,83%) menjadi 1.432,337. Sedangkan rupiah pada perdagangan valas pukul 12.00 WIB menguat 110 poin (%) menjadi 11.440 per dolar AS.
Perdagangan saham sesi siang mencatat transaksi sebanyak 47.636 kali, dengan volume 1,733 miliar unit saham, senilai Rp 1,452 triliun. Sebanyak 96 saham naik, 22 saham turun dan 49 saham stagnan.
Saham-saham yang naik harganya antara lain, Bumi Resources (BUMI) naik Rp 20 menjadi Rp 790, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) naik Rp 50 menjadi Rp 4.575, International Nickel Indonesia (INCO) naik Rp 150 menjadi Rp 2.275, Bank Mandiri (BMRI) naik Rp 50 menjadi Rp 2.200, Perusahaan Gas Negara (PGAS) naik Rp 25 menjadi Rp 2.150 dan Telkom (TLKM) naik Rp 100 menjadi Rp 7.450.Β
IHSG mengikuti penguatan yang terjadi di bursa kawasan seperti Hang Seng naik 1,59%, KOSPI naik 0,91%, Nikkei naik 1,48%, Shanghai naik 0,7%, STI Singapura naik 2,49% dan Taiwan naik 2,4%.
(ir/qom)











































