Demikian hal itu dikemukakan oleh Direktur APEX sekaligus Komisaris Utama PT Mitra Rajasa Tbk (MIRA) Tito Sulistio di sela media gathering di Pacific Place, SCBD Sudirman, Jakarta, Selasa (24/3/2009).
"Utang MIRA yang jatuh tempo tahun ini sebesar US$ 20 juta, sedangkan APEX US$ 70 juta ini akan kita lunasi," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Cicilan sekitar US$ 5 juta per tiga bulan," ujarnya.
Sedangkan total jumlah utang APEX sendiri sebenarnya US$ 135 juta, tahun ini yang akan dilunasi sebesar US$ 70 juta, sedangkan sisanya sebanyak US$ 65 juta dibayar tahun depan dengan berbagai opsi salah satunya menerbitkan obligasi.
Mekanisme pembayarannya akan menggunakan kas internal dan refinancing dengan komposisi 25:75 persen.
"Sudah banyak bank yang nawarin untuk refinancing, baik bank lokal dan asing. Jumlahnya saya tidak hafal karena banyak sekali," jelasnya.
Delisting APEX
Sementara itu, mengenai rencana delisting APEX dari lantai bursa Indonesia, ia mengatakan saat ini rencana tersebut sudah dilayangkan ke PT Bursa Efek Indonesia danΒ tinggal menunggu keputusan dari Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK).
Perseroan akan melakukan rapat umum pemegang saham (RUPS) mengenai aksi korporasi tersebut 45 hari dari sekarang. "Tender offer sudah, hanya tinggal membeli sekitar 600.000 saham yang belum dijual di pasar," ucapnya.
Jajaki Kerja Sama
PT Mitra Rajasa Tbk (MIRA) dikabarkan sedang menjajaki perjanjian kerjasama dengan salah satu anak usaha PT United Tractor Tbk (UNTR), yaitu PT Pamapersada Nusantara (PAMA).
Dari kabar yang beredar di pasar, emiten berkode MIRA tersebut berencana menggandeng PAMA dalam rangka mengembangkan produksi tambang batubaranya di Sumatera Selatan.
Komisaris Utama MIRA Tito Sulistio mengatakan, perseroan memang sedang melakukan penjajakan dengan salah satu kontraktor batubara terbesar di Indonesia untuk meningkatkan produksinya hingga 100.000 ton per bulan.
"Kita memang sedang ada penjajakan, tapi kalau nama belum bisa saya sebutkan karena semuanya masih dalam proses," ujarnya.
Saat ini, kedua tambang yang sebelumnya dimiliki PT Realita Jaya Mandiri (RJM) dan PT Masindo Artha Resources (MAR) tersebut baru memproduksi 30.000-40.000 ton per bulan. Itu semua dilakukan dalam rangka percobaan awal terhadap lahan tambang seluas 100 hektar. Sedangkan total luas pertambangan tersebut mencapai 11.600 hektar.
Perusahaan yang rencananya akan berganti nama menjadi PT Mitra International Resources Tbk itu baru akan melakukan penjualan jika produksinya sudah mencapai 100.000 ton per bulan.
(ang/ir)











































