BNI akan Bagi Dividen di Bawah 50%

BNI akan Bagi Dividen di Bawah 50%

- detikFinance
Rabu, 25 Mar 2009 15:36 WIB
BNI akan Bagi Dividen di Bawah 50%
Jakarta - PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) akan memberikan dividen di bawah 50% dari pencapaian laba bersih 2008. Jumlah dividen agak rendah karena kondisi ekonomi global yang abnormal. BNI juga sedang membutuhkan tambahan modal.

"Yang pasti di bawah 50 persen. Waktu kita secondary offering, kita janji minimal 30%, tapi itu berlaku untuk kondisi normal. Kalau kondisi abnormal ya kita minta di bawah 50%," kata Direktur utama BNI, Gatot Suwondo di di kantor kementerian BUMN, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Selasa (25/3/2009).

Gatot menjelaskan untuk menambah modal ada beberapa cara yang bisa dilakukan seperti penerbitan obligasi dan rights issue.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sekarang kita lihat pasar. Kalau kita issue bond sekarang dengan kondisi kayak gini harga mahal, hitungannya nggak masuk," kata Gatot.

Sementara jika melakukan rights issue situasi sekarang harganya tidak kondusif. "Pada diskon semua. Bank luar negeri diskon antara 40-50%. Itu tidak akan memungkinkan," katanya.

Namun karena pasar tidak bagus obligasi dan rights issue kemungkinan tidak akan dilakukan. BNI kata Gatot sedang melihat alternatif lain.

"Ada dua cara yaitu pertumbuhan kita tahan atau pertumbuhan jalan tinggal meminta dividen diminta agak rendah. Selama ini kan dividen 50 persen. Sekarang lagi dihitung, kita harus memperhatikan efek bagi perusahaan dan reaksi dari investor. Yang pasti di bawah 50 persen," katanya.

Gatot menjelasakan, tahun lalu pertumbuh BNI begitu cepat hingga 26%. Efeknya setiap Rp 1 triliun yang dikucurkan untul pinjaman akan memakan CAR 0,20%.

"Jadi bisa dihitung kalau kita naik Rp 5-6 triliun, berapa CAR-nya. Tapi tahun 2009, kita tetap akan tumbuh artinya kita harus modal juga," katanya.

Syariah

Mengenai pembentukan bank syariah, menurut Gatot akan diusahakan terbentuk tahun ini juga. Namun sebelumnya BNI akan melakukan spin off dulu terhadap unit syariahnya. Bank syariah yang dibentuk BNI ini kerjasama dengan investor Islamic Corporation for the Development of the Private Sector (ICD) dari Timur Tengah.Β Β 
Β 
"Kita usahakan tahun ini. Ini kan ada tahapannya, PBI baru keluar, kita lagi hitung, ngomong sama pemegang saham dikasih izin atau tidak, baru eksekusinya, buat perusahaan baru, minta izin-izin dan segala macam. Kita harus berbicara kepada RUPS tahunan nanti," katanya.

Gatot menjelaskan, investor Timur Tengah itu tetap komitmen akan masuk "Waktu itu kan mau masukin US$ 500 juta. Tapi kita bilang jangan sekaligus tapi bertahap," ujarnya.

"Dia minta menjadi mayoritas, kita di dalam lagi bicarakan apakah kalau mau narik duit dan kita jadi minoritas, apa tidak apa-apa," tambahnya.

Ditanya berapa porsi minoritas untuk investor asing, Gatot menjawab, "Di bawah 50%, jangan terlampau kecil atau besar. Tapi kalau 10% juga kerendahan. Ya sekitar 40-49%. Kembali lagi kemampuan kita untuk top up".

Untuk BNI sendiri masih menghitung berapa dana yang disiapkan untuk bank syariah ini. "Kalau Rp 1 triliun masih berani saya. Tapi lagi-lagi dengan situasi seperti saat ini kita harus hitung benar-benar," katanya.

Mengenai penambahan modal untuk unit usaha syariah (UUS) yang dikeluarkan BI, Gatot mengaku pihaknya masih mempelajari PBI tersebut dan implikasinya.

(ir/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads