Pengamat ekonomi Ichsanuddin Noorsy mengatakan, sikap yang selalu mengandalkan dana-dana asing untuk menggerakan perekonomian merupakan bentuk ketidakpercayaan diri Indonesia.
"Itu kan sama saja kita menyerahkan diri pada asing, padahal asing itu kan sekarang sedang berusaha menyelamatkan diri karena ambruknya perekonomian global. Kok kita malah menggantungkan diri pada asing yang notabene selalu kabur setelah mengambil keuntungan dari Indonesia ," kata Noorsy saat dihubungi detikFinance, Kamis (26/3/2009) Malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jangan sedikit-dikit panggil Bank Dunia, ADB dan lainnya, jangan sebut itu lagi," tegasnya.
JK menambahkan kalau kita selalu mengandalkan dana pinjaman asing, kita tidak akan pernah terlepas dari lilitan utang dan membuat bangsa ini tidak mempunyai martabat.
Menurut Noorsy Indonesia sebenarnya masih memiliki kekuatan perekonomian yang cukup kuat untuk mempertahankan dirinya sendiri.
"Asing itu kan dinegaranya masing-masing sedang kolaps. Strategi investasi mereka saat ini adalah tabrak lari, dalam arti mereka masuk sesaat, setelah dapat untung langsung kabur. Masak Indonesia mau menggantungkan diri pada investasi yang seperti itu, yang ada malah Indonesia cuma jadi hisapan saja. Menurut saya ini harus segera dihentikan. Ketergantungan Indonesia pada investasi asing harus segera dihentikan," tegasnya.
Dia menambahkan Otoritas pasar modal dapat membuat regulasi yang mengharuskan portofolio jangka pendek milik investor asing menanamkan investasinya minimal empat bulan. Langkah ini untuk meredam gejolak ambruknya Indek Harga Saham Gabungan (IHSG).
"Asing yang punya portofolio jangka pendek di lock up paling tidak 3-4 bulan," katanya.
Menurut dia, langkah yang telah dilakukan di sejumlah negara seperti China dan Malaysia ini terbukti dapat meredam kejatuhan IHSG. Dengan demikian, jika terjadi krisis, investor asing tidak langsung menarik dananya dari Indonesia sehingga dapat meminimalisir ambruknya industri keuangan.
Kebijakan ini jelas Noorsy, dinilai mampu menjaga resistensi di saat terjadi krisis seperti saat ini. Di saat yang sama, investor domestik baik ritel maupun institusi harus berani menanamkan investasinya di industri dalam negeri.
"Liberalisasi industri pasar modal tidak bisa dihindari, tapi setidaknya pemerintah berani mengambil kebijakan yang mendorong investor domestik," katanya.
Saat ini asing menguasai sekitar 60-70% portofolio di industri pasar modal. Dengan porsi yang sedemikian tinggi tegas Noorsy, tak heran industri pasar modal mengalami keambrukan di saat terjadi krisis keuangan.
"Investor lokalnya cuma sedikit, dalam kondisi begini asing kan langsung keluar," kata Noorsy.
(dro/ir)











































