Bursa Asia Diserang Profit Taking

Bursa Asia Diserang Profit Taking

- detikFinance
Senin, 30 Mar 2009 15:05 WIB
Bursa Asia Diserang Profit Taking
Jakarta - Bursa-bursa Asia dilanda pelemahan yang cukup tajam akibat serangan profit taking. Pada pekan lalu, bursa-bursa Asia telah menguat tajam seiring harapan membaiknya perekonomian global.

Pada perdagangan Senin (30/3/2009), bursa-bursa Asia mengalami tekanan yang cukup besar. Beberapa bursa Asia yang sudah tutup melemah antara lain:
  • Indeks Nikkei-225 ditutup merosot 390,89 poin (4,53%) ke level 8.236,08.
  • Indeks KOSPI turun 40,05 poin (3,24%) ke level 1.197,46.
  • Indeks S&P/ASX200 turun 67,9 poin I(1,85%) ke level 3.604,4.
  • Shanghai Composite Indekx merosot 16,40 poin (0,69%) ke level 2.358,04.
  • IHSG turun 57,246 (3,91%) ke level 1.405,499 (pukul 14.50 waktu JATS).

Bursa-bursa Eropa pun dibuka ikut melemah. Pada awal perdagangan pekan ini, indeks FTSE 100 London turun 2,58%, CAC 40 Paris turun 3,32% dan DAX 30 turun 3,89%.

Bursa Tokyo termasuk yang mengalami penurunan cukup tajam, mengingat penguatan Nikkei-225 termasuk yang paling besar pada pekan lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Masih ada ruangan yang cukup besar untuk profit taking dalam jangka pendek, setelah Nikkei mengalami overbought pada pekan lalu," ujar Akira Ishida, analis dari Chuo Securities seperti dikutip dari AFP.

Sentimen negatif lain yang ikut memicu profit taking adalah pengumuman pemerintah AS atas sektor otomotif, termasuk pergantian CEO General Motors Rick Wagoner. Pemerintah AS juga menyatakan bahwa rencana restrukturisasi GM dan Chrysler dinyatakan tidak layak. Pernyataan itu sekaligus memunculkan lagi kemungkinan bangkrutnya raksasa-raksasa otomotif AS.

Kekisruhan seputar sektor otomotif AS juga langsung memicu risk aversion dengan yen Jepang menguat tajam atas dolar AS dan euro. Dolar AS tercatat turun tajam atas yen ke posisi 97,06 yen, dibandingkan sebelumnya di posisi 97,96 yen.

"Pasar merespons kabar dari AS. Ini memperburuk sentimen sebelumnya yang sudah lemah," ujar analis senior Nomura Securities, Hiroshi Maeba.
(qom/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads