Profit Taking Tebas IHSG 43 Poin

Profit Taking Tebas IHSG 43 Poin

- detikFinance
Senin, 30 Mar 2009 16:08 WIB
Profit Taking Tebas IHSG 43 Poin
Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tak berdaya melawan aksi ambil untung yang juga melanda hampir semua bursa regional. Harga saham-saham blue chip kedodoran karena tingginya aksi jual ini.

Pelaku pasar nampaknya merealisasikan keuntungan jangka pendek, sebelum nantinya berburu lagi saham-saham favorit menjelang pengumuman inflasi dan BI Rate.

Pelaku pasar mulai mengantisipasi inflasi Maret yang akan diumumkan BPS pada 1 April mendatang tidak akan jauh berbeda dengan Februari yang sebesar 0,21%. Kondisi ini akan membuat BI mempertahankan posisi BI Rate di level rendah pada RDG 3 April nanti.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada penutupan perdagangan saham Senin (30/3/2009) IHSG turun tajam 43,653 poin (2,98%) menjadi 1.419,092. Pada sesi satu IHSG melemah 26,974 poin (1,84%) menjadi 1.435,771.

Indeks LQ-45 turun 10,301 poin (3,55%) menjadi 279,859 dan Jakarta Islamic Index (JII) turun 7,314 poin (3,02%) menjadi 234,910.

Perdagangan saham hari ini mencatat transaksi sebanyak 52.897 kali, dengan volume 2,516 miliar unit saham, senilai Rp 1,486 triliun. Sebanyak 36 saham naik, 128 saham turun dan 50 saham stagnan.

Saham-saham yang turun harganya antara lain, Bumi Resources (BUMI) turun Rp 40 menjadi Rp 800, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) turun Rp 325 menjadi Rp 4.150, Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) turun Rp 300 menjadi Rp 6.800, Astra International (ASII) turun Rp 1.550 menjadi Rp 14.250 dan Telkom (TLKM) turun Rp 150 menjadi Rp 7.450.

Sedangkan saham-saham yang masih naik harganya antara lain, Bisi International (BISI) naik Rp 70 menjadi Rp 1.600, Ciputra Property (CTRP) naik Rp 6 menjadi Rp 167 dan Lautan Luas (LTLS) naik Rp 10 menjadi Rp 950.

IHSG mengikuti pelemahan yang terjadi di bursa regional seperti Hang Seng turun 4,7%, KOSPI turun 3,24%, Nikkei turun 4,53%, Shanghai turun 0,69%, STI Singapura turun 4,18% dan Taiwan turun 3,43%.

Sentimen negatif lain yang ikut memicu profit taking adalah pengumuman pemerintah AS atas sektor otomotif, termasuk pergantian CEO General Motors Rick Wagoner. Pemerintah AS juga menyatakan bahwa rencana restrukturisasi GM dan Chrysler dinyatakan tidak layak. Pernyataan itu sekaligus memunculkan lagi kemungkinan bangkrutnya raksasa-raksasa otomotif AS.

Kekisruhan seputar sektor otomotif AS juga langsung memicu risk aversion dengan yen Jepang menguat tajam atas dolar AS dan euro. Dolar AS tercatat turun tajam atas yen ke posisi 97,06 yen, dibandingkan sebelumnya di posisi 97,96 yen.

"Pasar merespons kabar dari AS. Ini memperburuk sentimen sebelumnya yang sudah lemah," ujar analis senior Nomura Securities, Hiroshi Maeba.

(ir/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads