"Sebagian besar dana akan digunakan untuk pengembangan proyek Ciputra World Jakarta. Sisanya untuk operasional rutin dan biaya-biaya renovasi gedung dan sebagainya," ujar Direktur CTRP, Artadinata Djangkar disampaikan dalam paparan di kantor pemasaran Ciputra World, Jl Prof. Dr. Satrio kav 11, Jakarta, Selasa (31/3/2009).
CTRP membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 134,05% pada tahun 2008. Peningkatan didukung oleh melonjaknya pendapatan lain-lain yang pertumbuhannya mencapai 678,63%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Laba kotor 2008 dibukukan sebesar Rp 217,545 miliar, naik 16,41% dibanding tahun 2007 sebesar Rp 186,876 miliar. Beban usaha naik cukup tajam di 2008 sebesar 41,56% menjadi Rp 118,277 miliar dari tahun 2007 sebesar Rp 83,552 miliar.
Akibatnya, pada pos laba usaha perseroan membukukan penurunan sebesar 3,92% menjadi sebesar Rp 99,267 miliar dari tahun 2007 sebesar Rp 103,324 miliar.
"Penurunan laba usaha karena pendapatan dari proyek-proyek perseroan belum diterima di tahun 2008. Namun dari segi beban usaha sudah kami keluarkan di 2008. Itulah sebabnya laba usaha turun. Tapi pemasukan proyek-proyek tersebut akan masuk dalam pembukuan 2009," ujar Artadinata.
Namun dari pos pendapatan lain-lain, perseroan membukukan angka sebesar Rp 140,575 miliar di 2008, naik drastis 678,63% dari tahun 2007 sebesar Rp 18,054 miliar.
"Pada tahun 2008 kami memperoleh pendapatan bunga, keuntungan kurs dan laba dari sommerset yang tidak termasuk dalam konsolidasi, sehingga masuk melalui pos pendapatan lain-lain," ujarnya.
Perolehan tersebut mendongkrak laba bersih setelah efek penyesuaian proforma sebesar 106,06% menjadi Rp 187,538 miliar dari sebelumnya Rp 91,008 miliar.
Laba bersih sebelum efek penyesuaian proforma naik 134,05% menjadi Rp 187,538 miliar di 2008 dari sebelumnya Rp 80,125 miliar.
Tahun 2009, perseroan memproyeksikan pendapatan tumbuh sekitar 12% dibanding tahun 2008 atau sekitar Rp 363,538 miliar.
"Laba bersih 2009 diperkirakan sebesar Rp 170 miliar. Sedikit turun dari 2008, karena di 2008 kita mendapat kontribusi cukup besar dari pendapatan bunga dan keuntungan kurs yang belum tentu akan kami terima lagi di 2009," jelas Artadinata.
(dro/ir)











































