Mencari Satrio Piningit di Pemilihan Direksi BEI

Mencari Satrio Piningit di Pemilihan Direksi BEI

- detikFinance
Senin, 06 Apr 2009 08:42 WIB
Mencari Satrio Piningit di Pemilihan Direksi BEI
Jakarta - Konstelasi paket direksi jelang pemilihan umum Bursa Efek Indonesia (BEI) semakin panas. Solidnya paket Ito Warsito membuat pelaku pasar kasak kusuk mencari sang satrio piningit untuk bisa menandingi paket Ito.

Sekedar informasi, hingga saat ini paket Komisaris Utama PT Bahana Securities Ito Warsito masih paling solid dan terus dibanding paket-paket lainnya yang malah bubar atau mengundurkan diri.

"Satrio piningit harus ada untuk menandingi paket Ito," ujar tokoh senior pasar modal Adler Manurung, usai pertemuan Ikatan Pialang Efek Indonesia di Kafe Romeo, SCBD, Jakarta, Jumat (3/4/2009).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Adler, para anggota tim sukses dari lawan paket Ito kini sedang mencari-cari kandidat yang tepat untuk menduduki kursi BEI 1 alias Direktur Utama BEI beserta jajarannya.

"Situasinya memang sulit. Kans menandingi paket Ito sangat kecil. Tapi satrio piningit tetap harus ada. Jangan sampai hanya ada satu paket saja dalam pemilu kali ini," ujarnya.

Apa yang dikatakan Adler cukup logis. Di satu sisi, paket Ito memang sudah komplit dan memperoleh kuota yang mencukupi untuk maju pemilu BEI pada 24 Juni 2009. Di sisi lain, para anggota bursa (AB/sekuritas/broker) yang hendak menggalang paket tandingan, kesulitan memenuhi kuota.

Untuk menggalang paket sendiri, minimal membutuhkan dukungan sejumlah AB dengan total nilai transaksi rata-rata sebesar 10% terhitung periode 1 April 2008 hingga 31 Maret 2009.

Kendati demikian, tim sukses rival paket Ito masih berupaya mengalang paket tandingan, terutama setelah melihat surutnya kans paket yang rencananya diusung oleh Direktur Perdagangan Fix Income dan Derivatif, Keanggotaan dan Partisipan BEI Guntur Pasaribu lantaran pecah kongsi dengan Direktur Utama PT Merrill Lynch Indonesia Lily Widjaja.

Pisahnya Lily dan Guntur sempat menimbulkan tanda tanya. Spekulasi pun bermunculan. Banyak yang menduga mundurnya Lily karena takut isu sengketa saham PT Triwira Insan Lestari Tbk (TRIL) antara PT Renaissance Capital dengan Merrill Lynch dijadikan senjata untuk menjegal dirinya dalam kampanye nanti.

Sayangnya hingga saat ini, Lily enggan berkomentar soal ini. Namun menurut pengamat pasar modal Edwin Sinaga, kabar mundurnya Lily bukan sekedar rumor belaka, meski Edwin menyatakan tidak tahu pasti alasan Lily mundur.

Padahal, baik Lily maupun Guntur tadinya menjadi tumpuan besar bagi sebagian pelaku pasar yang hendak menggalang paket tandingan melawan paket Ito. Paket Ito yang konon sudah mendapat restu pemerintahan melalui konsorsium
sekuritas-sekuritas BUMN pun masih belum tergoyahkan.

Menarik untuk disimak apa alasan yang mendasari begitu ketatnya persaingan duduk di kursi BEI 1. Apalagi kalau bicara soal restu pemerintah dalam pemilu BEI. Konon, tidak satu pun calon-calon direksi BEI yang bisa menang tanpa restu pemerintah.

Tito Sulistyo, juga seorang tokoh senior pasar modal Indonesia, angkat bicara soal ini. Menurutnya, hal itu wajar-wajar saja terjadi, terlebih dalam dunia bisnis.

"Kalau anda belum pernah investasi di Argentina, siapa yang akan anda dekati terlebih dahulu, para pelaku bisnis disana atau pemerintah sana sebagai pembuat regulasi? Tentunya anda tahu siapa yang harus didekati supaya bisnis anda aman disana," ujar Tito.

Komentar tersebut terlontar untuk menanggapi pertanyaan seputar faktor-faktor apa yang membuat para AB begitu enggan bahkan takut menggalang paket tandingan. Menurut Tito, pelaku bisnis akan mengutamakan keselamatan bisnisnya sendiri lebih dulu, ketimbang faktor-faktor di luar itu.

"Jadi wajar-wajar saja kalau para AB memilih ikut pada siapa yang kuat," ujar Tito.

Kalimat senada diungkapkan oleh Adler. Menurut Adler, hal ini patut disayangkan namun sulit dihindari, apalagi dalam kondisi ekonomi tidak menentu seperti ini.

"Para AB ini kan bisnisnya sebagai broker. Jadi wajar saja kalau mereka memilih ikut yang besar ketimbang mencoba membuat paket tandingan. Apalagi dalam kondisi ekonomi seperti ini. Ini sebenarnya patut disayangkan, tapi memang seperti ini realitanya," ujarnya.

Apa yang diungkapkan Adler dan Tito cukup menjawab alasan mengapa para AB memilih diam ketimbang ikut partisipasi dalam upaya membuat paket tandingan. Boleh jadi, berubahnya sikap optimisme Guntur lantaran melihat kenyataan ini.

Kendati demikian, tim sukses rival paket Ito masih bergerilya secara diam-diam menggalang kekuatan, meski mereka pun menyadari kans menang cukup sulit.

"Saya dengar mereka (tim sukses rival Ito) sedang menggalang kandidat dan dukungan. Mereka sengaja tidak memunculkan nama dulu. Karena kalau nama sudah muncul akan lebih mudah digoyang," ujar Adler.

Adler menyebutkan satu nama yang kabarnya bakal diusung sebagai rival Ito. Nama itu adalah Direktur Utama PT Mandiri Manajemen Investasi Abiprayadi Riyanto.

"Saya dengar Abi yang bakal diusung. Tapi saya lihat kans dia kecil. Dia kan orang manajer investasi, saya kira kurang cocok kalau dia duduk di BEI 1. Beda segmennya," ujar Adler.

Sayangnya hingga saat ini detikFinance belum berhasil menghubungi Abi untuk mengkonfirmasi mengenai kabar tersebut. Untungnya, Presiden Direktur PT Trimegah Securities Tbk (TRIM) Aviyasa Dwipayana mau bicara soal kabar tersebut.

"Ya saya sudah dengar kalau pak Abi bakal mengusung paket sendiri. Tapi belum jelas siapa saja yang masuk dalam paket tersebut," ujar Aviyasa saat dihubungi detikFinance, Minggu (5/4/2009).

Sementara sumber detikFinance di lantai bursa menyebutkan nama Direktur Utama PT Relliance Securities Orias Petrus sebagai salah satu kandidat BEI 1 yang bakal diusung tim sukses rival paket Ito.

Ketika dikonfirmasi, Orias pun menyatakan siap maju jika mendapat dukungan dan sudah beberapa kali mengadakan pembicaraan dengan sejumlah AB.

"Ya saya sudah ngobrol-ngobrol dengan beberapa AB, tapi belum kelihatan hasilnya. Tapi kalau saya didukung teman-teman ya saya siap maju," ujar Orias.

Hingga saat ini, kelangsungan paket tandingan Ito belum kelihatan konstelasinya. Boleh jadi, apa yang diucapkan Adler tentang gerilya mencari kandidat secara diam-diam menjadi strategi rival paket Ito untuk maju ke pemilu BEI.

Sementara paket Ito sudah hampir lengkap. Enam dari tujuh kursi kandidat paket direksi sudah final, yaitu Komisaris Utama PT Bahana Securities Ito Warsito, Corporate Secretary BEI Friderica Widyasari Dewi, Direktur Kim Eng Securities Surya Widjaja, Direktur Utama PT Pacific Duaribu Adikin Basirun, Direktur Pencatatan BEI Eddy Sugito dan Kadiv Perdagangan Saham BEI Supandi.

Sebelumnya nama Direktur Utama PT Bhakti Securities Wishnu Handoyo akan dimasukkan. Namun kemudian batal. Wishnu pun ketika dikonfirmasi menyatakan belum ada rencana maju ke pemilu BEI.

"Belum. Saya belum ada rencana maju ke pemilu BEI," ujar Wishnu.

Menurut sumber detikFinance, kandidat pengganti Wishnu dalam paket Ito adalah Direktur PT Dhanawibawa Artha Cemerlang Uriep Budhi Prassetyo. Namun konstelasi finalnya masih menunggu batas waktu pengajuan nama-nama kandidat oleh sekitar 70 AB yang berhak mengajukan nama pada 29 April 2009. (dro/ir)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads