Menurut Dirut Antam Alwinsyah, perseroan sebenarnya sudah pernah menggelar uji kelayakan sebelumnya. Namun hasil uji kelayakan tersebut harus diperbaharui dan disesuaikan dengan konsisi pertambangan saat ini.
"Kita sebagai perusahaan tambang, yang penting bagi kita due dilligence. Baru dari situ kita tahu harganya yang pas. Kita sudah pernah melakukan due dilligence ini, tapi harus di-up date lagi dengan kondisi sekarang," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Misalnya cadangannya untuk 5 tahun, lalu kita beli 7% seharga 400 sekian juta dolar AS. Kapan kembalinya duit kita. Kita kan bisnis, jangan tiba-tiba beli harga 400 sekian juta untuk 7% tapi belum tentu dapat dividen. Jadi kita hanya taruh uang saja di situ," katanya.
Hasil uji kelayakan itu juga diperlukan bagi Antam untuk menentukan darimana sumber pendanaan untuk membeli saham NNT.
"Uang darimana, kita harus realistis. Kita juga harus due diliiginece yang paling penting, kita harus tahu, apa cadangan secara teknis bagus dan cukup atau tidak," katanya.
Sementara terkait permintaan Menneg BUMN Sofyan Djalil agar sejumlah BUMN tambang berkonsorsium membeli saham NNT, Antam mengaku tidak masalah.
"Posisi kita soal konsorsium oke-oke saja. Konsorsium itu menurut Pak Sofyan Djalil kan untuk membagi beban dan risiko ke semua BUMN tambang," katanya.
(lih/ir)











































