"Pada 1 Juni nanti kita akan meluncurkan sistem perdagangan kontrak fisik CPO," ujar Direktur BBJ, Edi Susmadi usai jumpa pers di Jakarta, Rabu (15/4/2009).
Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari pengembangan industri komoditas di tanah air. Fasilitas baru tersebut merupakan ujicoba perdana sistem kontrak perdagangan fisik komoditas yang disediakan BBJ.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Edi menjelaskan, sistem perdagangan kontrak fisik komoditas tersebut memiliki mekanisme yang berbeda dari mekanisme perdagangan kontrak berjangka.
"Kalau kontrak berjangka pembeli dan penjual bertransaksi melalui perantara broker. Untuk kontrak fisik, BBJ akan menjadi perantara langsung. Jadi tidak melalui jasa broker. Sistemnya akan kami sediakan secara online," ujar Edi.
Untuk tahap awal, lanjut Edi, BBJ akan melibatkan PT Perkebunan Nasional (PTPN) sebagai pihak penjual yang terdaftar secara resmi di BBJ serta sekitar 20 perusahaan yang terdaftar di BBJ yang akan bertindak selaku pembeli.
"Penjual yang sudah mendaftarkan diri adalah PTPN I-VIII, XIII dan XIV. Jadi ada 10 penjual. Sedangkan pembelinya ada sekitar 20 perusahaan, seperti sinarmas dan sebagainya," ujar Edi.
Dalam sistem ini, baik pihak penjual maupun pembeli diwajibkan mendaftarkan diri ke BBJ. Persyaratan utamanya adalah peserta transaksi wajib menyetorkan jaminan sebesar Rp 500 juta dalam bentuk guarantee notes.
"Jaminan tersebut akan disimpan di bank garansi. Banknya sedang dibahas. Akan diumumkan dalam satu dua minggu ke depan," jelas Edi.
Menurut Edi, guarantee notes diperlukan untuk menjamin jika terjadi suatu gagal bayar, sehingga tidak akan ada yang dirugikan.
"Jadi misalkan pembeli mencapai kesepakatan harga dengan penjual, namun ada salah satu yang tiba-tiba tidak dapat memenuhi kewajibannya, pihak lawan transaksi berhak mengeksekusi jaminan Rp 500 juta tadi. Jadi sistem ini aman. Tidak akan ada yang dirugikan," jelas Edi.
Edi juga mengharapkan, dengan adanya fasilitas baru ini, pergerakan harga komoditas CPO akan lebih kompetitif.
"Karena fasilitas ini memungkinkan seluruh pembeli melakukan penawaran secara langsung dengan seluruh penjual yang ada. Jadi harga yang terbentuk akan lebih kompetitif. Saat ini kan perdagangan komoditas dilakukan secara bilateral dan over the counter. Dengan fasilitas ini, perdagangan multilateral bisa difasilitasi," ujar Edi.
Fasilitas ini juga dinilai akan memudahkan para pembeli maupun para penjual, karena keduanya akan bertemu dalam satu platform sistem yang disediakan dan diawasi oleh BBJ.
"BBJ akan membentuk komite yang akan mengawasi secara langsung setiap peserta transaksi yang terdaftar, baik di pelabuhan tempat CPO akan diberangkatkan maupun tiba. Keamanan sistemnya sudah kami persiapkan," ujar Edi.
Edi memperkirakan, volume transaksi fasilitas ini akan sebanyak 1.000 ton per hari, dengan perkiraan nilai transaksi per hari mencapai Rp 7 miliar.
"Untuk tahap awal kami perkirakan sebanyak 1.000 ton per hari. Kalau harga CPO sekarang sekitar US$ 600 per ton, maka nilainya bisa mencapai Rp 7 miliar per hari," ujar Edi.
Edi mengatakan, 10 perusahaan penjual dan 20 perusahaan pembeli yang sudah terdaftar sebagai peserta transaksi diharapkan dapat memancing produsen-produsen CPO maupun pembeli CPO lainnya bisa ikut partisipasi dalam fasilitas ini nantinya.
"Ini sebagai trigger saja. Kita harap nantinya para produsen dan trader-trader CPO lainnya mau berpartisipasi disini," ujarnya.
"Tidak hanya CPO. Kami juga sedang menjajaki menyediakan fasilitas perdagangan fisik komoditas Kakao dan Kopi," ujar Edi.
Simulasi
BBJ bekerjasama dengan Kliring Berjangka Indonesia (KBI) akan menggelar simulasi perdagangan multilateral kontrak berjangka secara on line mulai 16 April hingga 16 Juni 2009.
"Tujuan simulasi adalah agar dapat meningkatkan minat masyarakat untuk berinvestasi dan meningkatkan likuiditas transaksi produk kontrak berjangka yang sudah ada," tutur Hasan.
Hasan menjelaskan, produk-produk kontrak berjangka yang akan disimulasikan dalam program tersebut adalah produk kontrak yang berbasis komoditas. Produk tersebut adalah Kontrak Berjangka Olein (OLE), Kontrak Berjangka Emas (GOL), Kontrak Gulir Indeks Emas (KIE), Kontrak Gulir Emas dalam Rupiah (KGE), dan Kontrak Gulir Emas dalam US Dollar (KGEUSD).
"Semua peserta dapat mengikuti simulasi dari manapun yang memiliki akses internet. Kami harap masyarakat awam bisa mengikuti program ini," katanya.
Sistem transaksi yang akan digunakan, jelas Hasan, merupakan sistem transaksi elektronik yang baru. Sistem ini memungkinkan beberapa kontrak dapat ditransaksikan secara simultan.
"Artinya, setiap peserta memiliki peluang untuk memanfaatkan keterampilannya membaca tren dari berbagai produk dalam portofolio yang lebih komprehensif," ujar Hasan.
Simulasi ini menyediakan hadiah untuk para pemenang dengan total sebesar Rp 90 juta. Hasan menjelaskan, hadiah tersebut disponsori oleh beberapa perusahaan pialang berjangka yaitu dari PT Harumdana Berjangka, PT Millennium Penata Futures, dan PT Monex Investindo Berjangka.
"Sebelumnya BBJ dan KBI yang menyediakan hadiah, kalo sekarang sudah ada sponsornya dan untuk pajak pemenang kami yang akan tanggung," kata dia.
Setelah calon peserta simulasi melakukan pendaftaran di kantor cabang pialang atau melalui situs BBJ, peserta akan mendapatkan nama dan kata kunci yang harus diverifikasi untu dapat diaktifkan sebagai peserta. Dalam simulasi tersebut nantinya, para peserta akan diberikan uang maya sebesar Rp 500 juta untuk melakukan transaksi kontrak berjangka.
Menurut Hasan, program simulasi ini akan dilakukan secara rutin untuk tujuan sosialisasi dan edukasi bagi masyarakat. Ia mengakui, transaksi bursa berjangka yang berjalan sekarang mayoritas bersifat bilateral yang terjadi di luar bursa melalui Sistem Perdagangan Alternatif atau biasa disebut juga Over The Counter (OTC).
Sistem ini, kata Hasan, memerlukan pembenahan untuk meminimalisir terjadinya pelanggaran dan untuk meningkatkan likuiditas perdagangan berjangka.
(dro/ir)











































