Rupiah Kena Imbas Psikologis Retaknya Golkar-Demokrat

Rupiah Kena Imbas Psikologis Retaknya Golkar-Demokrat

- detikFinance
Kamis, 23 Apr 2009 10:46 WIB
Rupiah Kena Imbas Psikologis Retaknya Golkar-Demokrat
Jakarta - Belum jelasnya konstelasi politik menjelang pemilihan presiden membuat pelaku pasar lebih hati-hati investasi ke rupiah. Namun pelemahan rupiah bukan semata karena tingginya tensi politik dalam negeri tapi lebih karena faktor global.

"Pelemahan rupiah lebih karena faktor global dimana investor sedang menunggu stress test perbankan AS pada 5 Mei mendatang. Soal pecahnya koalisi Demokrat-Golkar hanya memberikan efek psikologis saja bukan faktor utama," kata Treasury Division Head Bank NISP, Suryanto Chang dalam perbincangannya dengan detikFinance, Kamis (23/4/2009).

Suryanto menilai pelemahan rupiah yang pada pukul 10.19 WIB, Kamis (23/4/2009) turun 150 poin ke posisi 10.950 per dolar AS, masih dalam koreksi yang sehat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Setelah kenaikan yang tajam pekan sebelumnya, koreksi terhadap rupiah ini masih dalam batas yang wajar," katanya.

Kalau pun rupiah akan melemah ke 11.000 per dolar AS, Suryanto memperkirakan batas atas pelemahannya akan bertengger maksimal di posisi 11.200 per dolar AS.

"Karena beberapa indikator ekonomi global yang sebelumnya mengalami penurunan tajam sudah bisa ditekan pelemahannya. Jadi rupiah justru masih punya tren menguat," katanya.

Suryanto juga menegaskan, pasar tidak terlalu khawatir dengan kondisi politik saat ini. "Pasar sudah cukup dewasa menilai ini sebagai bagian dari kedewasaan demokrasi. Ini cuma permainan catur," katanya.

Sementara pengamat valas Toni Maryano mengakui memang ada sedikit pengaruh atas perkembangan politik saat ini terhadap rupiah. Namun itu lebih karena sentimen psikologis bukan masalah fundamental.

"Segala macam indikator itu tentu akan dibaca oleh pasar. Yang terjadi saat ini adalah prinsip kehati-hatian karena belum jelasnya konstelasi politik," ujar Toni.

Senada dengan Suryanto, Toni juga melihat pelemahan rupiah saat ini lebih karena faktor global, dimana dolar AS sejak awal pekan memang mencatat penguatan terhadap mata uang regional seiring dengan membaiknya beberapa kinerja korporasi di AS.

Menurut Toni, pasar tidak mencemaskan siapa yang harus menjadi pasangan SBY atau aksi koaliasi yang dilakukan parpol.

"Selama stabilitas politik terjaga pasar akan merespons positif. Kejadian saat ini hanya dinamika politik yang sudah bisa dicerna dengan baik oleh pasar maupun masyarakat," katanya.
(ir/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads