Sementara entimen positif datang dari General Motors (GM) yang menawarkan rencana restrukturisasi baru, dan diharapkan mampu menghindarkan raksasa otomotif itu dari kebangkrutan.
Pada perdagangan Senin (27/4/2009), indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup melemah tipis 51,29 poin (0,64%) ke level 8.025,00. Indeks Nasdaq ditutup turun tipis 14,88 poin (0,88%) ke level 1.679,41 dan Standard & Poor's 500 juga turun tipis 8,72 poin (1,01%) ke level 857,51.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Merebaknya flu secara jelas menjadi katalis profit taking yang efektif," ujar Patrick O'Hare analis dari Briefing.com seperti dikutip dari AFP, Selasa (28/4/2009).
Saham-saham maskapai mengalami tekanan karena flu babi dikhawatirkan bisa mengurangi niat orang untuk bepergian. Saham Amex Airline turun 10,6%, UAL Corp yang merupakan induk dari United Airlines turun 14,3% dan Continental Airlines merosot 16,4%. Indeks Transportasi Dow Jones tercatat turun hingga 4,7%.
"Pasar melihat hal-hal yang bisa dikhawatirkan, terutama ketika Anda berada 30% di atas titik terendah," ujar Warren Simpson, direktur pelaksana Stephens Capital Management seperti dikutip dari Reuters.
Sektor energi juga mendapatkan seiring turunnya harga minyak hingga 3% akibat kekhawatiran merebaknya flu babi. Saham Chevron Corp turun 1,8%, Exxon turun 0,7%.
Kabar baik dari GM membuat saham perusahaan otomotif itu naik hingga 20% menjadi US$ 2,04. GM baru saja mengumumkan rencana restrukturisasi baru untuk bisa mendapatkan pendanaan dari pemerintah. Rencana yang diajukan GM sebelumnya ditolak pemerintah karena dinilai tidak layak.
Perdagangan berjalan cukup moderat, di New York Stock Exchange mencapai 1,40 miliar, di bawah rata-rata tahun lalu yang mencapai 1,49 miliar. Di Nasdaq, transaksi mencapai 2,23 miliar, di bawah rata-rata tahun lalu yang sebanyak 2,28 miliar.
(qom/qom)











































