Saham Farmasi 'Nikmati' Flu Babi

Saham Farmasi 'Nikmati' Flu Babi

- detikFinance
Selasa, 28 Apr 2009 11:37 WIB
Saham Farmasi Nikmati Flu Babi
Jakarta - Saham-saham farmasi di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI) bergerak atraktif dan kembali menjadi incaran pelaku pasar menyusul merebaknya Flu Babi. Permintaan obat untuk mencegah flu babi menjadi 'berkah' perusahaan farmasi.

Tiga emiten farmasi utama di BEI langsung mengalami kenaikan harga. Penjualan obat pencegah untuk menaikkan daya tahan tubuh mulai diantisipasi pelaku pasar.

Pada perdagangan valas pukul 11.00 WIB, Selasa (28/4/2009) saham PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) naik Rp 30 (3,45%) menjadi Rp 900. Saham PT Kimia Farma Tbk (KAEF) naik Rp 4 (3,08%) menjadi Rp 134 dan saham PT Indofarma Tbk (INAF) naik Rp 4 (5,48%) menjadi Rp 77.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Merebaknya kekhawatiran akan penyakit flu babi,menimbulkan spekulasi di sektor farmasi," bunyi riset CIMB Traders, Selasa (28/4/2009).

Dari 9 emiten farmasi di BEI hanya tiga emiten tersebut yang pergerakannya sangat aktif. Sedangkan 6 saham farmasi lainnya selama ini 'tidur' seperti Darya Varia Laboratoria Tbk (DVLA), PT Merck Tbk (MERK), PT Pyridam Farma Tbk (PYFA), PT Schering Plough Indonesia Tbk (SCPI), PT Bristol-Myers Squibb Indonesia Tbk (SQBB), PT Tempo Scan Pacific (TSPC).

Sementara eTrading Securities melihat kasus flu babi dikhawatirkan akan mengganggu kinerja saham perhotelan dan travel jika kasus itu mewabah.

eTrading mencatat saham di AS melemah akibat kekhawatiran yang ditimbulkan oleh flu babi akan berdampak buruk pada industri travel, energi dan perhotelan. Host Hotel & Resorts Inc -15%, Delta Air Lines Inc dan Carnival Corp rugi 14% dan Chevron Corp -1.8%, sementara Humana Inc +6.9% dengan laba yang naik dua kali lipat.

Flu babi juga menyeret saham-saham penerbangan, Delta Air Lines -$1.13, UAL Corp. -14%, US Airways Group Inc. -17%. Berdasarkan data WHO, di Amerika sudah tercatat terjadi 40 kasus flu babi. Flu ini dapat menyebabkan kematian lebih dari 70 juta jiwa penduduk dunia yang muingkin akan mendorong perekonomian dunia menjadi 'major global recession', seperti yang pernah disampaikan oleh Bank Dunia.
(ir/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads