Menurut Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil, pihaknya malah belum mengetahui aksi korporasi yang hendak dilakukan BUMN tambang tersebut.
"Saya baru dengar tuh," katanya di Kantor Pusat PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), Jalan Trunojoyo, Jakarta, Senin (29/4
Ia mengatakan, pihaknya belum mau berkomentar mengenai masalah tersebut dan diserahkan kepada keputusan pemegang saham dalam rapat umum pemegang saham (RUPS) perseroan berikutnya.
"Itu kan tergantung pemegang saham publik, di RUPS nanti," katanya.
Menurut salah satu eksekutif di Kementerian Negara BUMN, pihaknya menyayangkan jika pembelian sahamnya hanya 17 persen karena tidak bisa menempatkan pengawas di Adaro.
"Kalau 17 persen kan tidak dapat apa-apa. Lebih baik di atas 20 persen supaya bisa tempatkan direksi atau komisaris," jelas sumber tersebut.
Saham Adaro yang akan dilepas tersebut merupakan milik konsorsium Goldman, Sachs, Farallon, Citi dan konglomerat Robert Kuok. Nilai penjualan sahamnya diperkirakan bisa mencapai Rp 6,52 triliun.
(ang/ir)











































