Selama April 2009, nilai tukar rupiah secara rata-rata terapresiasi sebesar 7,3% dari Rp 11.827 per dolar AS menjadi Rp 11.026 per dolar AS. Dan selama pekan pertama Mei 2009, nilai tukar rupiah tercatat menguat 9,2% atau berada di level 10.585 per dolar AS.
Penguatan rupiah tersebut dipengaruhi oleh menguatnya optimisme terhadap perekonomian global seiring dengan munculnya beberapa indikasi yang menunjukkan proses stabilisasi mulai berlangsung di sektor keuangan AS.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Namun demikian, penguatan rupiah disertai meningkatnya volatilitas dari 2,6% menjadi 3,5%," demikian laporan 'Tinjauan Kebijakan Moneter Mei 2009' yang dikutip dari situs BI, Rabu (6/5/2009).
Dalam laporan tersebut dikatakan, rebound di pasar keuangan global yang terjadi sejak Maret 2009 cukup berpengaruh terhadap penguatan rupiah. Ekspektasi positif kinerja beberapa lembaga keuangan serta kemajuan penanganan krisis oleh negara G-20 memberikan sentimen positif terhadap pasar keuangan global.
"Namun kelangsungan penguatan bursa saham global perlu terus dicermati mengingat penguatan tersebut belum didukung oleh perbaikan fundamental ekonomi secara keseluruhan," tulis laporan tersebut.
Bahkan bursa global pada pekan lalu sempat melemah dipicu oleh kekhawatiran terhadap
dampak ekonomi dari mewabahnya flu babi (swine flu) dan rencana pengumuman hasil stress test terhadap perbankan AS.
Seiring dengan ekspektasi pulihnya sektor keuangan di AS, risk appetite investor global
terhadap aset emerging markets termasuk Indonesia mengalami peningkatan. Hal tersebut tercermin dari menurunnya spread CDS dan spread Emerging Market Global Bond (EMBIG).
Selama April 2009, EMBIG spread menurun dari level 663 (akhir Februari 2009) menjadi 566 (29 April 2009). Indikator risiko lainnya yaitu spread sovereign CDS regional juga menyempit termasuk spread CDS Indonesia yang turun dari level 656 bps pada akhir Februari 2009 menjadi 403 bps pada 30 April 2009.
Sementara itu, faktor risiko domestik juga mengalami perbaikan tercermin dari penurunan tajam spread antara Global Bond Indonesia dan US T-Note dari 737 bps (Maret 2009) menjadi 527 bps (21 April 2009). Membaiknya persepsi pasar terhadap rupiah terkonfirmasi oleh pergerakan premi swap yang cenderung stabil dan menurun untuk semua tenor.
(qom/qom)











































