Pasar Obligasi Meriah Lagi Usai Pilpres

Pasar Obligasi Meriah Lagi Usai Pilpres

- detikFinance
Rabu, 06 Mei 2009 14:40 WIB
Pasar Obligasi Meriah Lagi Usai Pilpres
Jakarta - Berbeda dengan pasar saham yang sudah mulai ramai, pasar obligasi diperkirakan baru akan kembali atraktif setelah pesta politik pemilihan presiden selesai sekitar Oktober 2009.

"Kelihatannya investor masih menunggu siapa yang jadi presiden yang berarti sekitar Oktober 2009," ujar Direktur Perdagangan Fix Income dan Derivatif, Keanggotaan dan Partisipan Bursa Efek Indonesia, Guntur Pasaribu di kantornya, SCBD, Jakarta, Rabu (6/5/2009).

Menurut Guntur, jika pilpres dapat selesai dalam satu putaran sekitar Juli-Agustus 2009, tentu ramainya pasar obligasi bisa lebih cepat. Namun melihat peta politik yang ada, kelihatannya pilpres akan berlangsung dalam dua putaran, sehingga baru akan selesai sekitar Oktober 2009.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Penerbit obligasi akan melihat demand-nya. Sedangkan investor akan menunggu siapa yang jadi presiden. Jadi kelihatannya sekitar Oktober baru akan ramai kembali," ujar Guntur.

Meski demikian, menurut Guntur perdagangan obligasi di pasar sekunder sudah menunjukkan tanda-tanda kenaikan selama April-Mei 2009.

"Peningkatannya sekitar 10-15% selama April-Mei," ujar Guntur.

Namun untuk bisa meningkat lebih tinggi lagi, sebagaimana dikatakan Guntur, masih menunggu hasil pilpres Oktober 2009. Apalagi, rencana penerbitan obligasi sudah cukup banyak yang masuk ke BEI.

Total nilai emisi obligasi perusahaan-perusahaan baik yang sudah listing maupun yang baru akan listing sudah mencapai Rp 16,3 triliun di 2009.

Berdasarkan catatan detikFinance atas obligasi yang sudah listing di 2009:

  1. PT PLN  Rp 2,2 triliun.
  2. PT Matahari Putera Prima Tbk (MPPA) Rp 500 miliar.
  3. PT Danareksa Rp 200 miliar.
  4. PT Indomobil Sukses International Tbk (IMAS) Rp 500 miliar.
  5. PT FIF Rp 500 miliar.
  6. PT Astra Sedaya Finance Rp 900 miliar.

Sedangkan yang sudah berencana menerbitkan obligasi di 2009 sebagai berikut:

  1. PT Adira  Multi Dinamika Finance Tbk (ADMF) Rp 750 miliar.
  2. PT Summit Oto Finance Rp 500 miliar.
  3. PT Bank Tabungan Negara Rp 1,5 triliun.
  4. PT Bank Ekspor Indonesia Rp 2 triliun.
  5. PT Indofood Tbk (INDF) Rp 1 triliun.
  6. PT Bank Jabar Rp 2 triliun.
  7. PT Perum Pegadaian Rp 1,5 triliun.
  8. PT Medco Energi International Tbk (MEDC) Rp 1 triliun.
  9. PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA) Rp 500 miliar.
  10. PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) Rp 750 miliar.





(dro/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads