"Sebenarnya target penjualan tahun 2009 sebesar Rp 1,8 triliun, tapi dengan melihat kondisi krisis tapi di Indonesia maka perseroan merivisi targetnya menjadi Rp 1,2 triliun," kata Direktur SCCO, Bayu Adiwijaya Soepono dalam paparan publik, Kamis (7/5/2009).
Hingga akhir tahun lalu, penjualan perseroan mencapai Rp 2,1 triliun. Sedangkan penjualan pertiga bulan pertama tahun ini mencapai Rp 265,805 miliar. Selain itu, di Indonesia sendiri telah terjadi penundaan pembangunan proyek percepatan
listrik Jawa-Bali sebesar 150 KV.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebenarnya tender bisa diaktifkan dengan uang muka pada Maret, tapi sampai dengan saat ini belum ada informasi selanjutnya," ungkap Bayu.
Sedangkan, Nicodemus M Trisnadi sebagai Direktur Sucaco mengatakan, pihaknya tahun ini tidak menganggarkan belanja investasi. Itu terjadi karena penurunan order permintaan kabel dan turunya harga tembaga.
"Fasilitas sudah cukup," tuturnya.
Untuk itu, perseroan belum akan melakukan pendanaan dari perbankan. Sebelumnya, perseroan telah melakukan pinjaman dari BCA sebesar Rp 100 miliar.
Hingga per 30 Maret 2009 lalu, perseroan membukukan laba kotor Rp 32,997 miliar atau turun 31,11% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya Rp 614,907 miliar.
Hal itu menyebabkan, laba usaha turun sebesar 21,98% menjadi Rp 19,353 miliar dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya Rp 24,807 miliar. Akibatnya, laba bersih perseroan turun 81,07% menjadi Rp 19,353 miliar dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya Rp 6,515 miliar.
Sehingga laba per saham juga turun sebesar 81,07% menjadi Rp 6 dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya Rp 31,69. Sementara itu, laporan penjualan perseroan hingga Maret 2009 terlihat ekspor sebesar 0,63%, proyek
2,49%, PLN 10,01 persen dan swasta 86,87%.
(dro/qom)











































