Pada perdagangan Selasa (12/5/2009), indeks Dow Jones industrial average ditutup naik tipis 50,34 poin (0,60%) ke level 8.469,11. Indeks Standard & Poor's 500 juga naik 0,89 poin (0,10%), sementara Nasdaq justru turun 15,32 poin (0,88%) ke level 1.715.92.
Saham-saham sektor energi mendapatkan lagi momentum penguatannya setelah harga minyak mencapai US$ 60 per barel. Saham Exxon Mobil tercatat naik 2,2%, Chevron naik 1,75%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita benar-benar berada di tebing dan orang-orang tidak bisa memutuskan apakah masih ada ruang tersisa untuk rally ataukah kita sudah menetapkan harga sehingga siap untuk aksi jual," ujar Warren Simpson, analis dari Stephens Capital Management seperti dikutip dari Reuters, Rabu (13/5/2009).
Saham Bank of America tercatat turun hingga 5,3% setelah sebuah laporan menyebutkan bank terbesar di AS itu akan menjual sahamnya di China Construction Bank senilai US$ 7,3 miliar kepada sekelompok investor.
Perdagangan berjalan cukup aktif, di New York Stock Exchange mencapai 1,61 miliar, di atas rata-rata tahun lalu yang mencapai 1,49 miliar. Sementara di Nasdaq, transaksi mencapai 2,53 miliar, di atas rata-rata transaksi tahun lalu yang mencapai 2,28 miliar.
Minyak Sampai ke US$ 60 per barel
Sementara harga minyak mentah dunia untuk pertama kalinya sejak 6 bulan terakhir akhirnya kembali menembus US$ 60 per barel seiring anjloknya dolar AS. Pelemahan dolar AS membuat komoditas emas hitam ini terlihat murah dan diserbu investor.
Kemarin kontrak utama minyak light pengiriman Juni sempat menembus hingga US$ 60,08 per barel, sebelum akhirnya ditutup naik 35 sen menjadi US$ 58,85 per barel. Sementara minyak Brent pengiriman Juni juga naik 46 sen menjadi US$ 57,94 per barel.
"Minyak sangat berhubungan dengan dolar dan pasar saham, baru kemudian berkaitan dengan masalah kilang," ujar Phil Flynn, analis dari Alaron Trading seperti dikutip dari AFP.
(qom/qom)











































