Dolar AS Tersungkur

Dolar AS Tersungkur

- detikFinance
Rabu, 13 Mei 2009 07:48 WIB
Dolar AS Tersungkur
Jakarta - Dolar AS sedang mengalami tekanan yang besar, bahkan tersungkur ke titik terendahnya dalam 7 pekan atas euro. Nilai tukar rupiah pun bisa semakin perkasa.

Pada perdagangan Selasa (12/5/2009) kemarin, euro diperdagangkan di level 1,3643 dolar, naik dibandingkan sebelumnya di level 1,3585 dolar. Euro bahkan sempat melonjak hingga 1,3707 dolar, yang merupakan level tertinggi sejak 23 Maret.

Dolar AS juga melemah atas yen ke posisi 131,68 yen, dari sebelumnya di posisi 132,46 yen. Pelemahan dolar AS ini langsung membuat harga minyak mentah dunia melambung menembus level US$ 60 per barel sebelum akhirnya ditutup di level US$ 58 per barel.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pelemahan dolar AS terjadi setelah defisit perdagangan AS mencatat angka yang lebih baik, sehingga investor berbalik arah ke portofolio yang lebih berisiko. Defisit perdagangan AS tercatat naik menjadi US$ 27,6 miliar, namun angka ini lebih rendah dari ekspektasi analis sebesar US$ 29 miliar.

"Dolar AS pada awalnya melemah sangat tajam atas mata uang utama dunia menyusul laporan defisit perdagangan, sebelum akhirnya investor melakukan profit taking pada posisi short atas dolar AS," ujar Michael Woolfolk, analis dari Bank of New York Mellon seperti dikutip dari AFP.

Pelemahan dolar AS ini bisa menjadi sentimen positif bagi pergerakan rupiah. Pada perdagangan Rabu (13/5/2009) pukul 07.30 WIB, rupiah sudah menguat di posisi 10.246 per dolar AS, dibandingkan posisi kemarin di 10.340 per dolar AS.

Chief Economist Bank Danamon Anton Gunawan dalam catatan risetnya menjelaskan, penguatan rupiah sejak Maret hingga saat ini cukup beralasan karena memang kondisi perekonomian Indonesia sampai Q1-09 lebih baik dari kawasan ekonomi regional.

"Menurut perkiraan kami, rupiah sampai Juni 2009 dalam kisaran Rp 10.600 hingga 11.200/USD. Pergerakan rupiah masih ada kemungkinan risiko berfluktuasi, tergantung pada tensi politik menjelang pilpres yang akan datang dan gejolak ekonomi global," jelas Anton.


(qom/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads