Investor kembali melakukan aksi jual di hampir semua lini saham. Hal itu terjadi setelah data Departemen Perdagangan menunjukkan penjualan ritel AS turun hingga 0,4% selama April. Sementara angka revisi Maret juga menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi masih dalam tekanan.
Data itu sekaligus menghempaskan harapan akan terjadinya pemulihan ekonomi dengan cepat. Data itu sangat penting mengingat belanja konsumen menyumbang dua pertiga dari aktivitas ekonomi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada perdagangan Rabu (13/5/2009), indeks Dow Jones industrial average (DJIA) melemah 184,22 poin (2,18%) ke level 8.284,89. Indeks Standard & Poor's 500 juga melemah 24,43 poin (2,69%) ke level 883,92 dan Nasdaq turun 51,73 poin (3,01%) ke level 1.664,19.
Saham-saham yang berhubungan dengan belanja konsumen langsung terpuruk. Seperti Apple Inc yang turun hingga 4%. Produsen iPod dan iPhone ini tercatat memberi kontribusi besar bagi merosotnya Nasdaq.
Perdagangan berjalan sangat aktif, di New York Stock Exchange mencapai 1,77 miliar, diatas rata-rata tahun lalu yang sebanyak 1,49 miliar. Sementara di Nasdaq, transaksi mencapai 2,37 miliar, di atas rata-rata tahun lalu yang sebanyak 2,28 miliar.
Minyak Surut Lagi
Sementara harga minyak mentah dunia yang kemarin sempat melonjak menyentuh US$ 60 per barel akhirnya surut lagi seiring melemahnya Wall Street.
Kemarin kontrak utama New York untuk minyak light pengiriman Juni turun 83 sen menjadi US$ 58,02 per barel. Sementara minyak Breng pengiriman Juni turun 60 sen menjadi US$ 57,34 per barel.
"Minyak bersama dengan komoditas lain telah mendapatkan keuntungan dari menguatnya psar saham dalam beberapa pekan terakhir. Pasar sekarang sedang mencari beberapa gain," ujar Bart Melek, analis dari BMO Capital Markets.
(qom/qom)











































