"Tahun ini, kontrak alat berat yang sudah di-lock sebanyak 750 unit dengan nilai satuan rata-rata US$ 500 ribu," ujar Investor Relations UNTR, Ari Setiyawan usai RUPS Tahunan di hotel Shangri-La, Jakarta, Rabu (20/5/2009).
Ari mengatakan, 750 alat berat tersebut dipesan oleh konsumen utama UNTR seperti Thiess, Pama Persada dan Kaltim Prima Coal (KPC).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ari mengatakan target penjualan alat berat UNTR tahun ini sebanyak 2.500 unit. Semula perseroan menargetkan penjualan sebanyak 2.400 unit.
"Pasar alat berat di triwulan I-2009 cukup baik. Oleh karena itu kami menaikkan target unit penjualan alat berat jadi 2.500 unit," ujar Ari.
Tahun 2008, perseroan menjual 4.345 unit alat berat. Ari mengatakan, target tahun ini memang turun cukup tajam lantaran pasar alat berat nasional diprediksi menurun 50%.
"Pasar alat berat nasional tahun lalu 10.000 unit. Tahun ini hanya sekitar 5.000 unit. Namun kami tetap menargetkan pangsa pasar sebesar 50% atau sekitar 2.500 unit," ungkap Ari.
Dari jumlah tersebut, alat berat pertambangan akan mengambil porsi 70% di tahun ini. Sisanya untuk alat berat perkebunan, konstruksi dan kehutanan.
"Tahun ini memang permintaan alat berat pertambangan cukup tinggi ketimbang sektor lainnya," ujarnya.
Namun Ari belum bisa memprediksi pertumbuhan pendapatan maupun laba bersih yang akan diterima tahun ini. Menurutnya, pergerakan kurs rupiah terhadap dolar AS dan arah ekonomi masih sulit diprediksi.
"Jadi cukup sulit bagi kita melakukan penghitungan pasti," ujarnya.
Perseroan menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) tahun 2009 sebesar US$ 300 juta. Sebagian besar dananya akan digunakan untuk mendanai capex Pama Persada.
"Untuk penjualan alat berat US$ 15 juta, tambang batubara US$ 5 juta. Sisanya ke Pama," ujar Ari.
Dananya akan diperoleh dari kombinasi kas internal, pinjaman perbankan dan kredit pemasok.
"Kas kita masih ada Rp 3 triliun lebih. Plafon pinjaman bank juga sudah terpenuhi, ditambah kredit dari supplier. Jadi pendanaan sudah tidak ada masalah," ujar Ari.
(dro/lih)











































