Kekhawatiran itu cukup beralasan karena terus meningkatnya defisit anggaran AS dan melemahnya perekonomian. Standard & Poor's (S&P) sebelumnya menurunkan proyeksi perekonomian Inggris dari 'stabil' ke 'negatif' akibat melemahnya pembiayaan publik. Perubahan proyeksi atau outlook ini bisa saja berimplikasi pada penurunan peringkat 'AAA' Inggris.
Namun aktivitas yang terjadi tidak biasa karena penjualan saham-saham di AS tidak berlanjut pada pelarian aset-aset yang umumnya digunakan sebagai tempat berlindung, terutama di pasar obligasi pemerintah AS. Malahan pasar tersebut juga melemah dengan alasan yang sama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada perdagangan Kamis (21/5/2009), indeks Dow Jones industrial average ditutup merosot 129,91 poin (1,54%) ke level 8.292,13. Indeks Standard & Poor's 500 juga melemah 15.14 poin (1,68%) ke level 888,333 dan Nasdaq juga melemah 32,59 poin (1,89%) ke level 1.695,25.
Obligasi pemerintah AS atau US Treasury anjlok setelah pemerintah mengumumkan akan melakukan lelang penjualan obligasi pada pekan depan. Sementara dolar AS juga merosot terhadap sebagian besar mata uang dunia lainnya.
Sentimen negatif lainnya adalah laporan dari Departemen Tenaga Kerja AS yang melaporkan jumlah klaim pengangguran mencapai 631.000 pada pekan lalu, atau sedikit lebih buruk ketimbang ekspektasi analis.
Perdagangan berjalan moderat, di New York Stock Exchange mencapai 1,44 miliar, di bawah rata-rata tahun lalu yang sebanyak 1,49 miliar. Sementara di Nasdaq, transaksi mencapai 2,25 miliar, di bawah rata-rata tahun lalu sebanyak 2,28 miliar.
Minyak Mulai Surut
Sementara harga minyak mentah dunia yang sebelumnya sempat mengamuk menembus US$ 62 per barel akhirnya bisa sedikit surut.
Kemarin kontrak utama minyak light pengiriman Juli turun 99 sen menjadi US$ 61,05 per barel. Sementara minyak Brent pengiriman Juli turun 66 sen menjadi US$ 59,93 per barel.
(qom/qom)











































