Demikian dikemukakan oleh Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil di sela Morning Coffee di kantornya, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis (28/5/2009).
"Kita lihat setelah Pilpres lah, selain itu harus pada harga yang baik karena duitnya untuk memperbesar BUMN yang bersangkutan bukan ke APBN," katanya.
Menurutnya, jika masih belum menemukan harga yang baik untuk melakukan investasi, maka langkah lain yang bisa dilakukan perusahaan plat merah adalah mencari utang dari pihak lain.
"Cari utang dulu buat berkembang, setelah itu IPO kan nanti bisa dibayar utangnya," jelasnya.
Saat ini, seluruh rencana divestasi tersebut masih ditahan oleh Kementerian Negara BUMN. Menurutnya, alasan dilakukan divestasi tersebut agar BUMN bisa lebih bersaing dengan perusahaan swasta.
"Dulu itu PTPN (PT Perkebunan Nusantara) punya market share 70 persen, sekarang ini tinggal 18 persen karena swasta berkembang cepat sekali," ujarnya.
Sama halnya dengan PT Bank Tabungan Negara (BTN) yang akan melakukan divestasi agar bisa memperkuat credit adequacy ratio (CAR) sehingga bisa bersaing lebih ketat dengan swasta.
"Kita lihat BUMN Karya (infrastruktur) yang tumbuh besar sekali setelah go public. Saya harapkan semua (BUMN) bisa begitu," ungkapnya.
(ang/ir)











































