Saham-saham di Wall Street bergerak membaik setelah imbal hasil atau yield obligasi yang sebelumnya sempat membubung tinggi akhirnya turun. Lonjakan yield obligasi pemerintah AS sebelumnya membuat investor khawatir akan membuat biaya penerbitan surat utang menjadi mahal sehingga memicu aksi jual di Wall Street.
Lonjakan harga minyak juga membuat saham-saham sektor energi bergairah sehingga membawa indeks saham di Wall Street menguat cukup signifikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saham-saham sektor energi menguat seperti Chevron yang naik 1,9% dan Exxxon naik 1,4%. saham energi menguat tajam setelah harga minyak naik menembus level tertingginya dalam 6 bulan.
Kontrak utama minyak light pengiriman Juli kemarin sempat melonjak hingga US$ 65,35 per barel sebelum akhirnya ditutup naik 1,63 dolar ke level US$ 65,08 per barel. Sementara minyak Brent naik 1,89 dolar ke level US$ 64,39 per barel.
"Kita menghadapi pertemuan OPEC hari ini, plus ada data cadangan, dan keduanya sangat menguntungkan untuk minyak. Itulah yang membantu semua sektor," ujar Owen Fitzpatrick, kepala Grup Ekuitas Deutsche Bank Private Wealth Management seperti dikutip dari Reuters, Jumat (29/5/2009).
Saham-saham sektor finansial juga membaik, seperti saham JPMorgan Chase & Co yang naik hingga 5,7%. Sementara saham General Motors (GM) yang kini semakin mendekati kebangkrutan turun 2,6%.
Perdagangan berjalan cukup moderat, di New York Stock Exchange mencapai 1,37 miliar, di bawah rata-rata tahun lalu yang mencapai 1,49 miliar. Sementara di Nasdaq, transaksi mencapai 2,24 miliar, di bawah rata-rata tahun lalu yang sebanyak 2,28 miliar.
(qom/qom)











































