Hal itu perlu mengingat Jasa Marga sudah membangun sekitar 24 persen konstruksi di atas lahan yang baru 40 persen bebas.
Menurutnya Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil, jika 60 persen sisa lahan tidak segera dibebaskan, maka proyeknya akan mandeg dan muncul potensi kerugian, terutama membengkaknya bunga pinjaman perbankan.
"Duit Jasa Marga bisa nyangkut di (proyek) situ. Kalau sampai delay, bagaimana pinjaman mau dibayar," jelasnya di sela kunjungan ke tol Surabaya-Mojokerto, Surabaya, Jumat (29/5/2009).
Menurutnya, perseroan seharusnya membebaskan seluruh lahan di ruas tol tersebut sebelum memulai pembangunan konstruksi. Maka dari itu, perusahaan plat merah tersebut didesak agar lebih proaktif dalam melakukan pembebasan lahan.
"Kalau delay 6 bulan masih bisa ditolerir. Kalau semakin lama kan semakin mahal," ujarnya.
Konstruksi yang dibangun oleh BUMN itu saat ini sudah mencapai 24 persen dari seluruh ruas tol, atau sekitar 2 kilometer (section 1) dari total ruas.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama Jasa Marga Frans Sunito mengakui pembangunan konstruksi tersebut menyalahi aturan.
Ia beralasan, proyek tersebut merupakan proyek perpindahan tangan dari pemilik PT PT Marga Nujyasumo Agung (MNA) sebelumnya.
"Ini memang menyalahi aturan, seharusnya bebas semua lahan baru dibangun. Tapi ini kan proyek perpindahan dari pemilik sebelumnya," ujarnya.
(ang/qom)











































