Medvedev mengatakan perlu ada mata uang global lain selain yang sudah dipakai saat ini. Dalam wawancara dengan televisi CNBC, Medvedev mengatakan situasi dunia saat ini membutuhkan cadangan mata uang lain.
"Saat ini dunia membutuhkan jumlah cadangan devisa yang lebih besar dan itu bukan karena dolar yang buruk atau kebutuhan euro yang tidak cukup. Tetapi situasi saat ini membutuhkan cadangan dari mata uang lain," kata Medvedev seperti dilansir dari AFP, Rabu (3/6/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pernyataan Rusia itu langsung membuat mata uang paman sam tertekan terhadap euro dan yen. Meski pun pelaku pasar sendiri belum begitu yakin apakah BRIC benar-benar akan merealisasikan mata uang baru untuk transaksi globalnya.
Pada penutupan perdagangan valas Selasa waktu AS (2/6/2009) euro menguat 1,4305 dolar AS naik dari hari sebelumnya 1,4158 dolar AS. Sedangkan terhadap mata uang Jepan, dolar AS juga turun ke 95,72 yen dibanding hari sebelumnya 96,61 yen.
Rupiah Berhitung Faktor BI Rate
Sementara rupiah saat ini sedang berhitung terhadap BI Rate. Bank Indonesia pada Rabu ini akan menggelar rapat dewan gubernur (RDG) untuk menentukan besaran suku bunga acuan atau BI Rate.
BI kemungkinan akan memangkas BI Rate dari posisi saat ini 7,25% karena angka inflasi Mei yang terus melandai dengan laju tahunan (YoY) sebesar 6,04%. Â
Inflasi yang lebih rendah dari ekspektasi ini semakin memperbesar kesempatan dipangkasnya BI Rate dengan konsensus turun 25 basis poin ke 7%. Hal ini juga membuat risk premium Indonesia turun, sehingga menarik perhatian investasi asing.
Pada perdagangan valas pukul 08.10 WIB, Rabu (3/6/2009) rupiah ada di posisi 10.230 per dolar AS dan ditransaksikan di kisaran 10.220-10.240 per dolar AS.
(ir/ir)











































