BRI juga mulai mengurangi Kredit Usaha Rakyat (KUR),-yang merupakan program pemerintah,-- karena tingginya rasio kredit macet (NPL) dan mulai mengalihkannya ke kredit sendiri Kupedes.
Berikut analisa dari Mulya Chandra CFA dalam riset CIMB Securities yang diterima, Kamis (4/6/2009).
KUR melambat, berpindah ke Kupedes
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
- Dalam empat bulan pertama 2009, kredit usaha rakyat (KUR) melambat ke 4% dari 93,9% pada akhir tahun 2008. BBRI juga melihat loan balance KUR turun dari Rp 6,9 triliun pada Desember 2008 menjadi Rp 6,4 triliun (atau 4% dari total loan).
- Penyaluran pada beberapa daerah di cabang BBRI dihentikan, karena NPL sudah mencapai batas. Pada April 2009, NPL ratio dari KUR BBRI mencapai 4,96%, namun masih lebih baik dari Bukopin (BBKP) di 7.38%. Pemerintah menyadari hal tersebut dan tidak bisa memaksa bank, sehingga akan menunjuk 10 bank pembangunan daerah untuk melanjutkan program KUR.
- Tujuan dari partisipasi BBRI dalam KUR adalah mencari debitor berkualitas untuk kemudian dipindahkan ke micro produk lainnya yang tidak disubsidi, yaitu kupedes. KUR dapat memiliki profile resiko yang lebih tinggi dari kupedes sehingga bisa mencapai segment yang belum dijangkau.
- BBRI telah berhasil memigrasi 7% debitor KUR atau 106 ribu orang menjadi kupedes. Apabila level tersebut bisa dipertahankan, maka BBRI bisa meningkatkan debitor kupedes 2x lipat.
Target & Valuasi
CIMB mempertahankan rating outperform untuk Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dengan target harga Rp 7.000 dengan metode DDM (discount rate 16,4%).
BBRI menurunkan kredit KUR menunjukan kedewasaan dan kejelian kapan untuk mulai kapan untuk bertahan agar risiko jangan sampai membahayakan kesehatan bank.
"NPL KUR saat ini masih bisa dikendalikan, dan kami percaya BBRI sebagai growth proxy dan lebih menarik daripada potensi pesaingnya," kata Mulya.
(ir/qom)











































