Data CNBC pukul 16.30 WIB, Jumat (5/6/2009) mencatat rupiah menguat 145 poin hingga menembus level 9.930 per dolar AS. Rupiah terus mengalami penguatan sejak pembukaan perdagangan hari ini dan sempat menyentuh posisi 9.915 per dolar AS.
"Penguatan rupiah di level 9.000-an wajar karena sejak beberapa pekan lalu namun tertahan," kata pengamat valas Toni Mariano ketika dihubungi detikFinance, Jumat (5/6/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kedua, angka inflasi yang turun dimana per Mei 2009 laju tahunan inflasi 6,04%, PDB yang masih tumbuh 4,4% yang menjadi fundamental kepercayaan pelaku pasar. Ketiga adalah faktor ramainya transaksi di bursa saham seiring dengan masuknya aliran dana (capital inflow).
Toni menilai, posisi rupiah di level 9.000-an per dolar AS cukup sehat baik untuk importir maupun eksportir. "Penguatan rupiah ini lebih banyak sentimen positifnya, karena ongkos impor jadi lebih murah. Ekspor juga terlalu terganggu karena saat ini kondisi ekspor dunia sedang melemah," kata Toni.
Namun dia mengingatkan, penguatan rupiah ini bisa jadi hanya sementara karena kondisi mata uang lokal yang masih fluktuatif. Apalagi jika harga minyak dunia tembus ke level US$ 85 per barel pada akhir tahun seperti prediksi Goldman Sachs.
"Kalau harga minyak tinggi lagi rupiah akan terkena dampak negatifnya," katanya.
Sementara mata uang Asia kebanyakan melemah terhadap dolar AS seperti yen Jepang melemah 0,16%, won Korea melemah 0,3%, peso Filipina melemah 0,38%, dolar Singapura melemah 0,04%, bath Thailand melemah 0,23%.
(ir/lih)











































