"Amplop penawaran kita buka hari ini dan akan kami lakukan analisa," ujar Direktur Invesment Banking Bahana Securities, Eko Yuliantoro saat dihubungi detikFinance, Senin (8/6/2009).
Menurutnya, proses analisa akan berlangsung selama kurang lebih 3 hari. Rencananya, Bahana akan mempresentasikan hasil analisa terhadap penawaran kepada Tridaya Esta pada Rabu (10/6/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penutupan penawaran ditetapkan pada Jumat (5/6/2009), sedikit mundur dari jadwal yang ditetapkan sebelumnya pada 2 Juni 2009. Total jumlah penawar yang masuk ke Bahana hanya 3 penawar. Semula ada 5 penawar yang berminat membeli saham ELSA milik Tridaya.
"Bidder yang masuk Northstar-Saratoga, Ciptadana dan Pertamina," ujarnya.
Petronas dan Nippon Oil yang semula berencana ikut menawar tidak ada kejelasan. "Saya kurang tahu soal mereka (Petronas dan Nippon Oil), yang masuk ke kami hanya tiga," ujarnya.
Sayangnya Eko enggan membeberkan angka yang ditawarkan oleh masing-masing penawar yang sudah masuk dengan alasan kerahasiaan. "Nanti setelah nama pemenang diumumkan bisa kami beritahu," ujarnya.
Namun menurut sumber detikFinance yang mengetahui seluk beluk transaksi tersebut, Northstar-Saratoga menawar di harga Rp 450 per saham, Ciptadana Rp 315 per saham dan Pertamina Rp 451 per saham.
Sumber tersebut juga melihat ada kejanggalan terhadap penawaran yang diajukan oleh Pertamina. Di satu sisi, Dewan Komisaris Pertamina dikabarkan melarang akuisisi tersebut lantaran terlalu mahal, di sisi lain sebagian jajaran direksi bersikukuh untuk melanjutkan penawaran. Pertamina saat ini memiliki 41,1% saham ELSA.
"Itu terlihat dari dimundurkannya jadwal penutupan penawaran yang semula 2 Juni 2009 menjadi 5 Juni 2009. Pada 2 Juni 2009 tawaran Pertamina masih sebesar Rp 290 per saham. Namun pada 5 Juni 2009 harga penawaran Pertamina berubah menjadi Rp 451 per saham," ungkap sumber tersebut.
Ia juga melihat adanya kejanggalan dengan keinginan Pertamina mengambil kembali ELSA setelah melepasnya pada IPO tahun 2008. "Agak aneh, ketika IPO ELSA tahun lalu Pertamina melepas di harga Rp 400, kini memaksa membeli di harga Rp 451 per saham," ujarnya.
Terlebih, ia melanjutkan, Tridaya semula memang merencanakan akan menjual ELSA pada harga Rp 300 per saham, seperti valuasi harga wajar atas saham ELSA yang digelontorkan Mandiri Sekuritas dan Danareksa Securities di kisaran Rp 293-300 per saham.
Menurut sumber tersebut, ada gelagat aneh dalam rencana penawaran Pertamina.
"Kelihatannya perubahan harga penawaran ini bakal menguntungkan suatu pihak. Ada yang bilang, selisih dari harga wajar dan harga pembelian ini yang jumlahnya sekitar Rp 315 miliar akan mengalir ke salah satu pejabat tinggi yang membutuhkan dana untuk kampanye pilpres," ujarnya.
Menneg BUMN Sofyan Djalil pun menyatakan Pertamina tidak perlu ngotot membeli saham ELSA jika harganya terlalu tinggi. "Kalo diberikan premium yang tinggi kita enggak setuju. Tapi kalau ada harga yang cocok dan dianggap bisa
meningkatkan sinergi Elnusa dan Pertamina kita setuju," ujar Sofyan.
Sayangnya, Corporate Secretary Pertamina Toharso ketika dihubungi detikFinance enggan berkomentar lebih lanjut mengenai kabar perpecahan pendapat antara dewan komisaris dan jajaran direksi Pertamina terkait rencana akuisisi ELSA.
"Tanya ke juru bicara Pertamina saja deh," ujarnya.
Terlepas dari itu, Bahana mengakui bahwa Pertamina termasuk dalam salah satu penawar saham ELSA, meski harga yang ditawarkan belum dapat diumumkan.
Namun menurut salah seorang eksekutif Pertamina ketika dihubungi detikFinance mengatakan bahwa jajaran komisaris Pertamina akan menyetujui rencana akuisisi ELSA jika harga yang ditawarkan di level Rp 200 per saham.
(dro/ir)











































