"Pasar di dalam negeri sudah jenuh, makanya kita terus menjajaki pasar-pasar ekspor seperti Afrika dan Timur Tengah," kata Direktur PT Astra Agro Lestari Tbk Bambang Palgoenadi di sela acara Operasi Pasar Minyak Goreng, di Taman Sari, Jakarta , Kamis (11/6/2009).
Melalui merek Lazizah, perseroan mulai menembus pasar ekspor migor di negeri-negeri magribi yang umumnya sangat merespon positif produk migor Indonesia. Saat ini perseroan mampu memproduksi 950.000 ton sawit mentah (CPO) per tahun, dimana 10%-nya diolah menjadi migor dengan kapasitas 70.000 sampai 80.000 ton per tahun.
"Kita sudah ekspor sejak 2 tahun lalunya komposisinya baru 20% dari produksi minyak goreng kita," jelasnya.
Beberapa negara yang menjadi pasar migor Lazizah antara lain Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Ghana, dan lain-lain. Rencananya perseroan secara bertahap dalam beberapa tahun ke depan akan meningkatkan komposisi ekspornya.
Mengenai program CSR minyak goreng, perseroan hingga saat ini telah menyalurkan 50.000 liter migor untuk wilayah-wilayah Sumatera dan Kalimantan.
Khusus untuk produk MinyaKita, pihaknya baru memulai CSR MinyaKita pada satu bulan terakhir karena surat BPOM dan sertifikatnya baru keluar. Rencananya perseroan tidak akan menjual MinyaKita secara komersial setelah pada bulan Oktober 2009 mulai diberlakukan harga komersial untuk MinyaKita.
"Kita lebih pada CSR, nggak akan dijual pasar bebas, kalau ke pasar ya kita pakai merek sendiri," jelasnya.
(hen/dnl)











































