Wall Street Terburuk dalam Sebulan

Wall Street Terburuk dalam Sebulan

- detikFinance
Selasa, 16 Jun 2009 07:06 WIB
Wall Street Terburuk dalam Sebulan
New York - Saham-saham di Wall Street mengalami penurunan yang cukup tajam sekaligus menjadi hari terburuk dalam sebulan terakhir. Hal itu terjadi setelah data manufaktur regional menghempaskan optimisme akan kesehatan perekonomian AS.

Setelah melihat serangkaian tanda-tanda stabilitas ekonomi, investor kini mencari tanda yang lebih tegas bagi perbaikan ekonomi. Namun survei ternyata menunjukkan bahwa kegiatan sektor manufaktur menyusut lebih besar dari prediksi. Saham-saham manufaktur mengalami penurunan, seperti 3M yang turun 2,8%, Caterpillar turun 4,3%.

Komentar dari kelompok negara-negara maju G8 ikut memperburuk situasi. Keinginan mereka untuk menghapuskan stimulus fiskal dianggap bisa mengganggu upaya pemulihan ekonomi yang kini sedang berjalan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Wall Street tidak senang dengan komentar yang dibuat pada pertemuan tingkat menteri G8 akhir pekan lalu. Anggota G8 mengindikasikan mereka akan menghapuskan paket stimulus ekonomi, sebuah langkah yang memicu saham komoditas dan yang terkait dengannya untuk berbalik arah," ujar Joseph Hargett dari Schaeffer's Investment Research seperti dikutip dari AFP, Selasa (16/6/2009).

Pada perdagangan Senin (15/6/2009), indeks Dow Jones merosot hingga 187,13 poin (2,13%) ke level 8.612,13. Indeks Standard & Poor's 500 juga melemah 22,49 poin (2,38%) ke level 923,72 dan Nasdaq merosot 42,42 poin (2,28%) ke level 1.816,38.

Saham-saham sektor energi juga mengalami penurunan setelah harga minyak turun tajam. Saham Chevron tercatat turun hingga 2,2%.

Saham Wal-Mart tercatat turun hingga 2,8% setelah Goldman Sachs memangkas peringkatnya dari 'beli' menjadi 'netral. Saham Wal-Mart masuk ke jajaran top loser di Dow Jones.

Perdagangan sangat tipis, di New York Stock Exchange hanya mencapai 1,15 miliar lembar saham, di bawah rata-rata tahun lalu sebanyak 1,49 miliar. Sementara di Nasdaq, transaksi mencapai 2,19 miliar, di bawah rata-rata tahun lalu yang sebanyak 2,28 miliar.

Harga Minyak Merosot

Sementara harga minyak mentah dunia yang sempat melesat ke US$ 73 per barel akhirnya surut seiring penguatan dolar AS dan terjadinya profit taking.

Kontrak utama minyak light pengiriman Juli turun 1,42 dolar ke level US$ 70,62 per barel. Kontrak ini sempat turun lagi di bawah US$ 70 per barel. Sementara minyak Brent pengiriman Juli turun 1,48 dolar ke level US$ 69,44 per barel.

Menurut John Kilduff, analis dari MF Global, penurunan harga minyak mentah hari ini terutama terkait dengan lonjakan harga minyak pada Senin lalu. Profit taking terjadi setelah harga minyak melonjak ke titik tertingginya dalam 8 bulan.

"Ada profit taking, dan beberapa orang memakluminya sebagaimana yang terjadi di pasar saham yang saat ini juga sedang mengalami tekanan," ujarnya seperti dikutip dari AFP.
(qom/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads