BUMI mengakuisisi 44% saham DEWA secara tidak langsung, yakni melalui akuisisi 80% saham Zurich Asset Investment senilai Rp 2,412 triliun pada 30 Desember 2008. Zurich menguasai 55% saham DEWA.
"MAPPI telah melakukan perbandingan dengan valuasi yang dilakukan Yanuar Bey. Hasilnya, valuasi Yanuar (atas akuisisi DEWA) lebih rendah dari nilai wajar MAPPI," ujar sumber detikFinance, Selasa (16/6/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
DEWA merupakan perusahaan yang bergerak di bidang kontraktor dan pertambangan batubara. Tahun 2009, DEWA diprediksi mengangkut 84 juta ton batubara dan memproduksi 9 juta ton batubara. Perkiraan pendapatan DEWA mencapai US$ 200 juta di 2009.
Skema pembayaran akuisisi DEWA dibagi menjadi 3 tahap. Pembayaran di muka sebesar Rp 492 miliar. Pembayaran tahun pertama sebesar Rp 359 miliar. Pembayaran di tahun ketiga sebesar Rp 1,561 miliar.
Skema pembayaran di tahun ketiga ditetapkan dengan asumsi DEWA mampu memproduksi
12 juta ton batubara di 2011.
"Jika DEWA gagal mencapai target tersebut, harga akuisisinya terbuka untuk diturunkan," ujar sumber tersebut.
Sementara mengenai akuisisi 84% Pendopo Energi Batubara juga serupa dengan DEWA.
MAPPI menilai valuasi yang telah ditransaksikan di bawah harga wajar, sehingga manajemen BUMI tidak perlu melakukan penyesuaian.
"MAPPI menemukan akuisisi Pendopo senilai Rp 1,304 triliun di bawah harga wajar, sehingga penyesuaian tidak diperlukan," ujar sumber tersebut.
BUMI mengakuisisi 84% saham Pendopo Energi Batubara secara tidak langsung dengan mengakuisisi 89% saham PT Pendopo Coal senilai Rp 1,304 triliun. Pendopo Coal menguasai 95% saham Pendopo Energi Batubara.
Pendopo Energi merupakan produsen batubara dengan cadangan sebanyak 1,8 miliar ton. Namun hingga saat ini, Pendopo Energi belum beroperasi sebab masih dalam feasibility study.
Sayangnya, Direktur Utama BEI Erry Firmansyah ketika dikonfirmasi mengenai hal ini enggan membenarkan kabar tersebut.
"Kata siapa?" ujarnya.
(dro/lih)











































