Pada perdagangan Rabu (17/6/2009) pukul 07.30 WIB, rupiah berada jauh di level 10.240 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level 10.170 per dolar AS.
Dirut Mandiri Sekuritas Mirza Adityaswara mengatakan, penguatan rupiah yang terjadi sebelumnya telalu cepat sehingga pelemahan selanjutnya adalah wajar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia juga melihat potensi pelemahan dolar AS kedepan masih terbuka lebar karena sejumlah negara seperti China berniat mengalihkan investasinya ke mata uang lain. Demikian pula Brasil dan India yang ingin mengalihkan obligasinya.
"Dolar AS melemah karena ekonomi berantakan, suku bunga rendah terus juga karena ada pemikiran dari China tadi, sebagian yang menglihkan pelan-pelan nilai tukar mata
uang dari dolar ke yang lain. Jika ekonomi AS tidak pulih signifikan, maka pengalihan cadangan devisa dari dolar pasti terjadi," katanya.
Sementara euro kemarin mulai stabil posisinya atas dolar AS setelah sempat merosot jauh. Euro menguat ke 1,3838 dolar dibandingkan sebelumnya di level 1,3793 dolar. Sementara dolar AS melemah tipis atas yen ke posisi 96,42 yen, ke level 97,83 yen.
Pulihnya euro terjadi setelah 4 negara emerging terkuat, Brasil, Rusia, India dan China (BRIC) kembali mencuatkan perdebatan seputar masa depan dolar AS. BRIC menyerukan sistem mata uang yang lebih terdiversifikasi sehingga memunculkan lagi persoalan dominasi dolar AS sebagai mata uang paling berpengaruh.
"Pertemuan in harus menciptakan kondisi bagi permintaan dunia yang lebih aduil. Sangat penting untuk memiliki sistem mata uang yang terdiversifikasi," demikian pernyataan bersama dari BRIC seperti dikutip dari AFP.
Dalam komunike bersama BRIC, mereka berkomitmen untuk meneruskan reformasi institusi finansial internasional sehingga bisa merefleksikan perubahan dalam perekonomian dunia.
(qom/qom)











































